Webinar CSPS Bahas “Kontroversi Perancis dan Hubungan Bilateral Indonesia-Perancis”

0
108
Sumber: CSPS SKSG UI

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Center For Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan Indonesia Review (http://indonesiareview.id/) telah menyelenggarakan Seminar Daring bertema: Kontroversi Perancis dan Masa Depan Hubungan Bilateral Indonesia-Perancis.

Berdasarkan pantauan NEWSCOM.ID, kegiatan ini berlangsung secara virtual pada Jumat (6/11) siang, Pukul 14.00 – 16.30 Waktu Indonesia Barat (WIB), dan diikuti sekitar 70 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Acara dibuka secara langsung oleh Ketua CSPS SKSG UI, Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si.

Seminar Daring ini juga menampilkan tiga narasumber, yakni Wakil Direktus SKSG UI, Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P., Ph.D., dan Ketua Komisi Dakwah Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., M.A., Ph.D., dan Sekretaris CSPS SKSG UI, Dr. (Cand.) Yanuardi Syukur.

Adapun moderator dalam acara ini ialah Bendahara CSPS SKSG UI, Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si. Sedangkan pembawa acara atau Master of Ceremony ialah Ir. Ajeng Pramastuti, S.T., M.Si.

Dalam sesi tanya jawab di seminar daring ini, terdapat dua orang penanya, yakni Pendiri Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan, Drs. H. Thamrin Dahlan, M.Si., dan seorang jurnalis dari Kantor Berita Miraj News Agency (MINA), Rifa Berliana Arifin.

Sejumlah permasalahan aktual terkait Republik Prancis pun dibahas secara mendalam di Seminar Daring ini, antara lain tentang pernyataan kontroversial Presiden Prancis, Emmanuel Jean-Michel Frederic Macron, pada Jumat (2/10) di Les Mureaux, Perancis.

“Islam adalah agama yang saat ini sedang mengalami krisis di seluruh dunia,” tutur Presiden termuda Prancis yang akrab disapa Emmanuel Macron itu.

Dua frase lainnya yang diucapkan Presiden Emmanuel Macron pada Jumat (2/10) ialah istilah “Islamisme Radikal” dan “Separatisme Islamis”. Satu kalimat dan dua frase tersebut telah menyinggung umat Islam di berbagai belahan dunia.

Bahkan dua pekan setelah pernyataan Presiden Emmanuel Macron, tepatnya pada Jumat (16/10), seorang guru asal Perancis, Samuel Patty, telah dibunuh secara sadis oleh seorang wali murid. Ia dibunuh di Conflans-Saint-Honorine, sekitar 30 Kilometer dari kota Paris, Perancis.

Menurut penyelidikan polisi, wali murid itu sangat marah kepada sang guru, Samuel Patty, yang telah menunjukkan sebuah karikatur kepada murid-muridnya pada September 2020. Karikatur dari majalah Charlie Hebdo itu sangat jelas menghina dan melecehkan Rasulullah Muhammad Shallallahu A’laihi Wa Sallam (SAW).

Kemudian pada Sabtu (31/10) Presiden Republik Indonesia (RI), Ir. H. Joko Widodo, mengecam keras pernyataan Presiden Perancis, Emmanuel Macron, yang telah menghina agama Islam dan telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia.

Selain itu, Presiden Joko Widodo pun mengecam keras terjadinya berbagai kekerasan di Paris dan Nice yang telah menyebabkan timbulnya korban jiwa di kalangan rakyat Perancis.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

LEAVE A REPLY