PRIMA DMI: “Minoritas Muslim Uyghur Menghadapi Problematika Sosial dan Intrik Politik”

0
77
Sumber: PRIMA DMI

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Umat Islam masih bergelut dengan berbagai problematika sosial dan intrik politik di seluruh penjuru dunia seperti Palestina, Rohingya, Spanyol (Andalusia), dan Bosnia Herzegovina serta Uyghur.

Seperti dikutip dari laman https://www.facebook.com/ahmad.arafat1, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Ahmad Arafat Aminullah, S.T., menyatakan hal itu pada Sabtu (19/12/20) malam,.

Tepatnya saat memberikan kata sambutan dalam Seminar Daring Internasional bertema: Meneropong Sejarah Krisis Kemanusiaan Terhadap Minoritas Muslim: Telaah Awal Kasus Uyghur.

“Umat Islam pun harus berhadapan dengan dinamika interaksi sosial dan konfrontasi politik yang berbeda-beda. Bahkan umat Islam sering mengalami ancaman penderitaan, sikap represif dan krisis kemanusiaan dari rezim-rezim penguasa dalam berbagai peradaban,” ujar Ahmad Arafat.

Di era globalisasi ini, lanjutnya, berita dan kejadian dari berbagai belahan dunia dapat dengan cepat kita ketahui tidak lama setelah terjadi. “Termasuk kejadian di Provinsi Xinjiang Uyghur Autonomous Region (XUAR), Repubik Rakyat China,” ungkapnya.

“Semestinya semua ini menjadikan kita kian terhubung, semakin dekat dan senantiasa bersama-sama dengan saudara-saudara kita meskipun berbeda tempat dan hanya terhubung melalui jejaring virtual,” harapnya.

Arus bah informasi pun, ucapnya, semestinya semakin mendewasakan pemikiran kita. Dengan terbukanya khazanah berfikir dan berdiskusi, kita semakin terhubung lebih luas dengan berbagai jenis orang dari seluruh penjuru dunia.

Berdasarkan pantauan NEWSCOM.ID, acara ini diselenggarakan oleh PRIMA DMI bekerja sama dengan Komunitas Go HijrahYayasan Pamong Asthabrata dan Uyghur Human Rights Project (UHRP).

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Sekretaris Departemen Hubungan Antar Lembaga dan Hubungan Luar Negeri PP DMI, Drs. H. Bunyan Saptomo, M.A. Saat ini, beliau juga mengemban amanat selaku Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Narasumber lainnya ialah Direktur Eksekutif UHRP, Mr. Omer Kanat, B.A., yang juga  The Chairman (Ketua) Komite Eksekutif World Uyghur Congress (Kongres Uyghur Dunia).

Turut menjadi narasumber seorang aktivis Muslim asal Medan, Ustadz Ahmad Syauqi, Lc. M.Irkh., yang juga pengurus di PP PRIMA DMI sekaligus Dewan Pembina Go Hijrah.

Seorang narasumber lagi dalam Seminar Daring ini ialah Nursiman Abdureshid, M.B.A., seorang Muslimah asal Uyghur yang kini tinggal di Istanbul, Republik Turki, dan telah menyelesaikan pendidikannya pada program magister dalam bidang Administrasi Bisnis.

Sebagai seorang Diaspora Uyghur, Nursiman Abdureshid menjadi aktivis dan giat berkampanye untuk kebebasan etnik Uyghur dalam menjalankan agama dan keimanannya.

Acara ini dibuka secara resmi dengan kata sambutan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) PRIMA DMI, Ahmad Arafat Aminullah, S.T., selaku tuan rumah dan penyelenggara acara.

Adapun moderator dalam acara ini ialah Wia Ulfa, S.I.P., dari Yayasan Pamong Asthabrata (Pamasta). Sedangkan pembawa acara yakni Barakha Afriansyah Iwana, S.STP, juga dari Pamasta. Keduanya sama-sama alumni dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Dalam Seminar Daring ini, pembacaan doa dipandu oleh Muhammad Hasanurrizqi, S.STP., yang juga Ketua Pimpinan Daerah (PD) PRIMA DMI Kabupaten Paser. Bersama-sama dengan Barakha Afriansyah, Hasanurrizqi juga bekerja di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia (RI). Kedua aktivis Muslim ini pun aktif di Pamasta.

Seminar Daring ini diikuti oleh lebih dari 100 peserta melalui aplikasi Zoom. Setiap peserta yang mendaftar secara resmi melalui link yang diberikan oleh panitia juga mendapatkan sertifikan elektronik (e-certificate). Selain itu, narahubung dalam seminar daring ini ialah Ketua Departemen Seni dan Budaya PP PRIMA DMI, Hotmartua Simanjuntak.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

LEAVE A REPLY