Pelatihan BUMDes Se-Bantul: “Mengubah Sampah Anorganik Menjadi Produk Industri”

0
63
Sumber: Guntur Subagja Mahardika / https://www.facebook.com/gunturri/photos/pcb.10158854632750255/10158854632565255/

NEWSCOM.ID, BANTUL – Guwosari Training Centre (GSTC) menjadi lokasi untuk Pelatihan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kabupaten Bantul Tahun 2021 pada Jumat (26/3) hingga Senin (29/3). GSTC berlokasi di Dusun Bungsing, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam rilisnya kepada NEWSCOM.ID, Sabtu (27/3), Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPKBPMD) Kabupaten Bantul mengonfirmasi hal ini. Acara ini bertujuan untuk mewujudkan Kabupaten Bantul Zero Waste (Tanpa Sampah).

Selaku penyelenggara acara, DPPBKPMD Kabupaten Bantul mengundang sejumlah narasumber, antara lain Asisten Staf Khusus (Astafsus) Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) Bidang Ekonomi dan Keuangan, Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si., pada Sabtu (27/3) siang.

Ketua Umum (Ketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) itu menjadi narasumber bersama-sama dengan Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM), Prof. Gunawan Sumdiningrat, M.Ec., Ph.D.

Dua narasumber lainnya dalam Pelatihan BUMDes ini ialah Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Bantul, Hj. Emi Masruroh Halim, S.Pd., dan pengusaha pabrik paralon dari limbah sampah, Boy Chandra.

Pelatihan BUMDes Tahun 2021 ini diikuti oleh para Kepala Desa dan Direktur BUMDes se-Kabupaten Bantul. Para peserta terlihat sangat antusias dalam megikuti pelatihan ini. Khususnya setelah mengetahui bahwa beragam jenis sampah anorganik dapat diolah menjadi berbagai produk industri yang menghasilkan pendapatan (Rupiah).

Jadi sampah anorganik tidak hanya dapat diolah menjadi produki-produk kerajinan tangan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk-produk industri bernilai rupiah. Pelatihan ini mengajarkan teknik-teknik tertentu untuk mengubah sampak anorganik menjadi produk-produk indsutri bernilai pendapatan (rupiah).

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

LEAVE A REPLY