Tawaf TV – Episode Kedua: “Konflik Timur Tengah (Suriah)”

0
96
Sumber: Tawaf TV / Muhammad Ibrahim Hamdani

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) Dewan Masjid Indonesia (DMI) bekerja sama dengan Tawaf TV telah menyelenggarakan program Khazanah Timur Tengah di Tawaf TV sejak akhir tahun 2019 hingga kini.

Episode kedua dalam ‘Khazanah Timur Tengah’ ini memulai proses taping pada pekan kedua bulan November 2019 dengan tema: Konflik Timur Tengah. Episode kedua ini tayang di Tawaf TV selama sepekan, sejak hari Senin hingga Ahad, pada pekan kedua bulan Desember 2019.

Adapun narasumber dalam episode ini ialah Ketua Program Studi (Prodi) Kajian Terorisme, Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) – Universitas Indonesia (UI), Muhamad Syauqillah, S.H.I., M.Si., Ph.D., yang juga pakar terorisme UI.

Sedangkan moderator atau pembawa acara (host) dalam program ini ialah Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si, selaku Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kemitraan Internasional PP PRIMA DMI. Ia juga menjadi redaktur situs web http://www.dmi.or.id, sebuah situs berita milik PP DMI.

Episode kedua ini berdurasi 30 menit dan terbagi menjadi tiga segmen tanya jawab antara host dengan narasumber, dua sesi pesan bermanfaat saat jeda antar segmen, dan tiga sesi pembukaan pada setiap segmen, serta satu sesi penutupan. Jadi rata-rata setiap segmen memiliki durasi 8-10 menit.

Episode ini membahas tentang konflik berlarut-larut, perang saudara berdarah dan aksi-aksi terorisme di Republik Arab Suriah yang tejadi selama sembilan tahun terakhir, sejak 2011 hingga kini. Bahkan berbagai entitas global turut aktif dalam konflik yang tidak jelas lagi siapa lawan dan siapa kawan di dalamnya.

Sejumlah pihak seperti pemerintah Suriah di bawah kekuasaan Presiden Bashar al Assad terlibat konflik berlarut-larut dengan kelompok oposisi Suriah yang membentuk Tentara Pembebasan Suriah (Free Syrian Army/ FSA). Kelompok oposisi ini lalu pecah, sebagian bergabung dalam kelompok Jabhat al-Nusrah (Front an-Nushrah).

Jabhat al-Nusrah awalnya menjadi bagian dari kelompok Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) di bawah pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi. Namun karena muncul konflik dan pertempuran dengan kelompok ISIS, maka Jabhat Al-Nusrah memutuskan keluar dari ISIS, dan bergabung dengan kelompok al-Qaidah pimpinan Aiman adz-Dzawahiri.

Di satu sisi, kelompok-kelompok seperti ISIS, Jabhat al-Nusrah, dan al-Qaidah sama-sama ingin menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad. Di sisi lain, ISIS dan Jabhat-al-Nusrah juga saling bermusuhan di wilayah konflik Suriah. Selain itu, ada pula kelompok masyarakat Kurdi yang terjepit di tengah-tengah konflik Suriah.

Kelompok masyarakat Kurdi di Suriah ini membentuk satuan militer bernama Yekîneyên Parastina Gel (YPG) atau Waḥdāt Ḥimāyat aš-Šaʽb‎. Tujuannya ialah mempertahankan wilayah otonomi de facto suku Kurdi di Rojava, Suriah Utara. Bahkan pada 17 Maret 2016, YPG secara sepihak membentuk Federasi Suriah Utara – Rojava.

YPG juga membentuk aliansi pasukan militer bernama Pasukan Demokratik Suriah atau Syrian Democratic Forces (SDF) pada tahun 2015. Pasukan ini merupakan hasil kolaborasi dengan kelompok warga Arab – Suriah, Assyria, Armenia dan Turkmen.

SDF pun menjadi salah satu unsus kelompok oposisi di Suriah dalam melawan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad. Namun YPG dan SDF juga berperang melawan kelompok ISIS, sekaligus dianggap sebagai ancaman nasional oleh Negara Qatar dan Republik Turki. Karena itu, kedua negara ini menetapkan YPG sebagai organisasi teroris.

Konflik Suriah juga melibatkan berbagai kekuatan asing dan kepentingan global seperti pemerintah Federasi Rusia, Republik Islam Iran, Republik Rakyat China (RRC), Kerajaan Arab Saudi, Republik Turki, Negara Qatar, Republik Iraq, Amerika Serikat (AS), Republik Lebanon, Republik Federal Jerman, dan Republik Prancis, serta Kerajaan Britania Raya.

Selain itu, masalah global tentang Suriah terkait erat dengan lebih dari 3,6 juta pengungsi Suriah yang ada di sepanjang perbatasan Suriah-Turki, serta puluhan ribu pengungsi Suriah lainnya yang tersebar di berbagai negara, dari kawasan Uni Eropa hingga AS.

Organisasi pengungsi internasional di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), United Nations High Comissioner for Refugees (UNHCR), pun terlibat aktif dalam menangani permasalahan pengungsi Suriah yang menjadi korban konflik dan perang saudara berlarut-larut itu.

Kemudian, negara-negara anggota Liga Arab terlibat dalam konflik Suriah meskipun tidak secara langsung. Misalnya Republik Arab Mesir, Kerajaan Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Bahkan pemerintah AS menjadi salah satu pemimpin global dalam Koalisi Anti ISIS yang berjumlah 72 negara di seluruh dunia.

Program Khazanah Timur Tengah di Tawaf TV ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, antara lain PT. TOA Galva Prima, Tbk, dan Perusahaan Umum (Perum) Bulog, serta PP DMI dalam bentuk pemberian merchandise (bingkisan) kepada moderator dan narasumber.

Selaku moderator, saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pihak yang telah mendukung terlaksananya acara ini, khususnya kepada Ketua Umum PP PRIMA DMI, Ahmad Arafat Aminullah, S.T., Pemimpin Redaksi (Pemred) Tawaf TV, H. Buyung Wijayakusuma, dan para pengurus PP DMI atas bimbingannya terhadap acara ini.

 

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Alumnus Prodi Pascasarjana KTTI – SKSG UI.

Host Program Khazanah Timur Tengah di Tawaf TV.

Bendahara / Peneliti Center for Strategic Policy Studies (CSPS) – SKSG UI

Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kemitraan Internasional PP PRIMA DMI.

Direktur Jaringan Strategis dan Kerja Sama Inisiatif Moderasi Indonesia (InMind) Institut.

Redaktur NEWSCOM.ID.

LEAVE A REPLY