Jumlah Petani Muda 0,95 Persen, INTANI: “Bangun SDM Pertanian!”

0
104
Ketua Umum DPP INTANI, Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si. Sumber: INTANI / Muhammad Ibrahim Hamdani

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Salah satu alasan lahirnya Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) ialah rendahnya jumlah petani muda yang berusia di bawah 25 tahun, yakni hanya sebesar 0,95 persen dari jumlah petani di seluruh Indonesia. Bahkan INTANI turut berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional di sektor kelautan dan perikanan.

Seperti dikutip dari laman https://pertanian.sariagri.id/, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) INTANI, Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si., menyatakan hal itu pada Rabu (6/10).

Tepatnya saat menjadi narasumber dalam Talkshow Pertanian dan Generasi Milenial yang berlangsung pada Pukul 09.00 – 12.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Talkshow ini mengangkat tema: “Pertanian: Bisnis Asyik untuk Milenial.”

“Kenapa Insan Tani dan Nelayan? Karena kita menitik beratkan pada sumber daya manusia (SDM). INTANI ingin agar petani dan nelayan menjadi subyek pembangunan di sektor kelautan dan perikanan,” ujarnya.

Saat ini, paparnya, jumlah petani muda berusia di bawah 25 tahun hanya mencapai 0,95 persen dari jumlah petani di seluruh Indonesia. Karena itulah INTANI dilahirkan.

Menurutnya, petani dan nelayan bukan sekedar obyek dalam pertumbuhan ekonomi, tetapi harus menjadi pelaku, penggerak dan pelaksana dalam pembangunan ekonomi.

“Jadi ketika pertanian dan perikanan berkembang, maka petani dan nelayan dapat benar-benar menikmati pertumbuhan ekonomi tersebut. Bahkan yang terlibat di dalamnya bukan hanya petani dan nelayan, tetapi juga pelaku ekonomi di sektor-sektor lain,” ucap Guntur Subagja Mahardika pada Rabu (6/10).

“Salah satu misi INTANI adalah connecting people, jadi bagaimana kita bisa menghubungkan semua stakeholder pertanian menjadi suatu kekuatan sehingga sektor pertanian bisa menjadi lokomotif pertanian nasional,” jelasnya.

Selain itu, Asisten Staf Khusus (Astafsus) Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) Bidang Ekonomi dan Keuangan ini menilai bahwa bangsa Indonesia belum mampu memanfaatkan potensi negara agraris yang subur, bentang alam yang luas, dan sektor kelautan yang sangat hebat secara maksimal.

“Akibatnya dalam masalah pasokan pangan, Indonesia kerap kali kekurangan bahan pangan. Bahkan kita masih keteteran di sektor pertanian dan pangan. Kita harus menyadari hal itu, potensi memang belum dioptimalkan secara maksimal,” ungkap Guntur.

Bangsa Indonesia pun, ucapnya, masih sering kekurangan untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, karena itu masih banyak produk-produk impor yang masuk. “Tentu saja hal ini menjadi tantangan serius bagi kita semua,” imbuh Guntur Subagja.

Acara daring ini diselenggarakan oleh Kementan Republik Indoensia (RI), Bank Indonesia (BI), serta Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indoensia (INTANI).

Talkshow (Bincang-Bincng) daring ini merupakan kegiatan jelang terlaksananya Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2021 pada Senin (25/10), tepatnya dalam Agriweek Road to ISEF 2021.

Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Chief Executive Officer (CEO) Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swasembada (P4S) Peternakan Puyuh Sukabumi, Dr. H. Slamet Wuryadi, S.P., M.P., yang juga  pemilik (owner) Slamet Quail Farm. Ia juga penah menjadi Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian (Kementan) RI.

Narasumber lainnya ialah CEO Mitra Mikro Social Investment Media, Arief Rizky. Adapun moderator dalam kegiatan melalui Zoom Cloud Meeting ini ialah salah satu pengurus DPP INTANI, Aden Budi, M.E.

Editor: Muhammad Ibrahim Hamdani

LEAVE A REPLY