Kemenlu: “Akar Masalah Konflik Adalah Teror Israel Terhadap Palestina”

0
239
Sumber: CSPS SKSG UI / Hima Pascasarjana KWTTI SKSG UI / SKSG UI

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Konflik yang saat ini terjadi di Gaza tidak dimulai pada 7 Oktober 2023. Akar masalah konflik ini adalah penindasan, teror, provokasi, kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah zionis Israel terhadap rakyat Palestina yang telah berlangsung selama 75 tahun, dihitung dari berdirinya Negara Israel pada 15 Mei 1948.

Direktur Timur Tengah (Timteng), Direktorat Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf), Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Bagus Hendraning Kobarsyih, M.Si., menyatakan hal itu pada Rabu (29/11/23). Tepatnya saat menjadi narasumber dalam Talkshow Peacemaker Forum 2023 secara daring, melalui rekaman video.

Tepatnya, dikutip dari siaran langsung (live streaming) akun Youtube Al Jama’ah TV pada Rabu (29/11/23) di laman https://youtu.be/L3UEu9KWTjA.

Acara Talkshow Peacemaker Forum 2023 merupakan puncak kegiatan dari Bulan Solidaritas Palestina (BSP) 2023 yang diselenggarakan oleh Aqsa Working Group (AWG) selama November 2023.

Talkshow Peacemaker Forum 2023 diselenggarakan bersama oleh Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) UI, AWG, SKSG UI, Himpunan Mahasiswa (Hima) Pascasarjana Kajian Wilayah Timur Tengah dan Islam (KWTTI) SKSG UI dan Program Studi (Prodi) Pascasarjana KWTTI SKSG UI.

“Tapi kalau dibilang kekerasan sudah berlangsung jauh sebelum itu. Sejak Deklarasi Balfour, mengalir orang-orang Yahudi ke Palestina yang memancing kekerasan, ketengangan dengan masyaralat setempat. Selama 75 tahun, Israel terus melakukan agresi kepada warga Palestina,” tutur Bagus Hendraning Kobarsyih pada Rabu (29/11/23).

Mereka (rezim zionis Israel), lanjutnya, memprovokasi terhadap status quo Masjid Al-Aqsa, dengan ditandai mereka sering melakukan kunjungan-kunjungan secara provokatif, sengaja mengganggu ketenangan ibadah masyarakat beragama lain, khususnya Islam, yang sedang beribadah di kawasan tersebut.

“Utamanya saat hari-hari besar seperti Idul Fithri, Idul Adha, dan mereka juga mengunakan hari-hari besar mereka (Yahudi) untuk memprovokasi masyarakat Muslim yang sedang ada di masjid tersebut (Masjid Al-Aqsa),” jelasnya.

Menurutnya, saat ini, kita semua menyaksikan kondisi yang memilukan di Palestina, khusunya di Gaza, atas terjadinya operasi penindasan, pembunuhan, intimidasi dan provokasi yang dilakukan oleh pemerintah pendudukan zionisme Israel terhadap rakyat Palestina. “Khususnya di Gaza dan sekarang mulai berkembang ke Tepi Barat,” imbuhnya.

“Serangan ini telah menewaskan 14.000, atau mungkin sekarang sudah 15.000 jiwa, dan mengusir hampir satu juta warga Gaza dari rumah. Mereka jadi pengungsi di negaranya sendiri. Selain itu, kita melihat ada blokade total yang memutus suplai bahan bakar, makanan, obat-obatan dan air serta kebutuhan pokok lainnya masyarakat Gaza,” ujarnya.

Blokade itu, ungkapnya, dilakukan oleh pemerintah pendudukan zionisme Israel. Akibat yang segera terasa ialah telah terjadi kerusakan dan berhentinya pelayanan kesehatan rumah sakit-rumah sakit di Gaza. “Ini karena kondisi yang demikian memprihatinkan dan juga keterbatasan dan kelangkaan kebutuhan pokok,” paparnya.

“Hal ini (blokade dan genosida di Gaza) jelas merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional secara keji dan brutal. Dimana pun, yang namanya perang tetap ada aturan, harus melindungi orang tua, kelompok rentan, anak-anak, perempuan, dan orang kecil lainnya. Tetapi dilarang menyerang instalasi sipil,” ucapnya.

Tetapi itu semua (aturan dalam perang), imbuhnya, dilanggar dengan sengaja dan arogansi oleh rezim zionisme Israel. Kondisi yang berbahaya dan memprihatikan ini, sekarang juga melebar ke Tepi Barat, dimana terletak situs lokasi tempat suci bagi tiga agama besar, yaitu Islam, Nasrani dan Yahudi.

“Dan sekarang terjadi penangkapan secara indisciminate attack (serangan tanpa pandang bulu), terhadap warga Palestina, oleh aparat keamanan zionis Israel yang kadang kala sering memancing kekerasan, pemukulan, penembakan bahkan pembunuhan ke warga Palestina,” jelas Bagus Hendranin Kobrasyih.

Indonesia, lanjutnya, mengecam keras, sekeras-kerasnya, seluruh kekejaman dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh pemerintah zionisme Israel dan menyerukan gencatan senjata yang permanen, sebagai kelanjutan gencatan senjata yang ada sekarang.

“Tujuannya ialah untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi terjadinya penghentian kekerasan dan penyaluran bantuan kemanusiaan,” ujarnya.

Sebelumnya Ketua CSPS SKSG UI, Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si., telah memberikan apresiasi positif atas terselenggaranya Talkshow Peacemaker Forum 2023 pada Rabu (29/11) di Kampus UI, Salemba, Jakarta.

“CSPS SKSG UI mengapresiasi dan menyabut baik penyelenggaraan Talkshow Peacemaker Forum yang diselenggarakan bersama oleh AWG, Hima Pascasarjana KWTTI SKSG UI, Prodi Pascasarjana KWTTI SKSG UI, dan CSPS SKSG UI serta SKSG UI dalam puncak peringatan BSP 2023,” tutur Guntur Subagja pada Selasa (28/11) malam.

CSPS SKSG UI, lanjutnya, mengecam keras invasi Israel ke Gaza dan Tepi Barat, Palestina, dan berharap dukungan dunia untuk menekan Israel agar menghentikan agresinya. “CSPS SKSG UI mendukung Palestina merdeka,” tegas Guntur Subagja.

Melalui Peacemaker Forum 2023, ungkapnya, CSPS SKSG UI mengajak masyarakat Indonesia untuk membantu masyarakat Gaza dan Palestina, misalnya melalui kepedulian kemanusiaan dan bijak di tengah isu boikot produk pro Israel.

“Kami prihatin apabila pendapatan perusahaan-perusahaan pro Israel itu digunakan membeli senjata untuk membunuh warga sipil, perempuan, dan anak-anak serta merebut lahan Palestina. Bangkit Palestina, merdeka Palestina!,” jelasnya.

Program “Talkshow Peacemaker Forum 2023” juga mengambil momentum penting, tepat pada 29 November, yang diperingati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas internasional sebagai Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina. PBB telah menetapkannya sejak 29 November 1977.

Seperti dilansir dari laman Antara News pada Selasa (28/11), tertulis bahwa Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina merujuk pada saat Dewan Keamanan (DK) PBB mengadopsi Resolu-si DK PBB Nomor 181 Tentang Rencana Partisi Palestina pada 29 November 1947.

Resolusi DK PBB Nomor 181 memuat rencana pembagian Palestina ke dalam dua negara, yakni sebuah negara Arab (Negara Palestina) dan sebuah negara Yahudi (Negara Israel) yang merdeka, serta membentuk rezim internasional yang khusus mengelola Kota Yerusalem. (Jafar M. Sidik, Penulis, Antara News,” Solidaritas Dunia untuk Palestina Kini Terasa Jauh Lebih Penting,” Selasa, 28/11/2023).

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, keynote speakers, antara lain Dubes Negara Palestina untuk RI, Yang Mulia Dr. Zuhair S. M. Al-Shun, yang diwakili oleh Deputi Dubes Palestina untuk RI, Dr. Ahmed M.I Metani.

Narasumber utama lainnya ialah Direktur SKSG UI, Athor Soebroto, S.E., M.M., M.Sc., Ph.D., yang dalam acara ini diwakili oleh Ketua Prodi Pascasarjana KWTTI SKSG UI, Yon Machmudi, M.A., Ph.D.

Selain itu, terdapat lima narasumber dalam acara ini, antara lain Ketua Prodi KWTTI SKSG UI, Yon Machmudi, M.A., Ph.D., Direktur Timur Tengah, Direktorat Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf), Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Bagus Hendraning Kobarsyih, M.Si., dan Ketua Presidium Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C), dr. Sarbini Abdul Murad.

Dua narasumber lainnya ialah Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr. H. Ikhsan Abdullah, S.H., M.H., dan Ketua Dewan Presidium AWG, Ir. Nur Ikhwan Abadi.

Adapun moderator dalam acara ini ialah Kepala Peliputan Kantor Berita MINA (Mina News), Rana Setiawan, yang juga Koordinator Acara BSP 2023. Hadir pula Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Al-Jam’iyatul Washliyah, KH. Dr. Masyhuril Khamis, S.E., M.M., yang telah memberikan testimoni dalam acara ini.

KH. Dr, Masyhuril Khamis, M.M., juga mengemban amanat selaku Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD PAB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Selain itu, hadir juga Bendahara dan Peneliti CSPS SKSG UI, Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si., yang juga Anggota Dewan Pakar Organization of Islamic Cooperation (OIC) Youth Indonesia atau Pemuda OKI Indonesia. Ia turut menjadi penggagas acara ini, lalu memberikan testimoni mewakili CSPS SKSG UI.

Turut hadir dan memberikan testimoni Pendiri (Founder) Center of Human Excellence and Diversive (CoHesive), Ahmad Arafat Aminullah, S.T., Direktur Eksekutif Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES), Dr. Ryantori, S.Sos., M.Si., dan Perwakilan dari Hima Pascasarjana KWTTI SKSG UI, Muhammad Nabil Robani.

Hal lain yang sangat menarik dalam acara ini ialah penyampaian testimoni dalam bahasa Arab oleh Muhammad Nabil Rabbani, sedangkan testimoni dalam bahasa Inggris disampaikan oleh Dr. Ryantori, M.Si.

Lebih lanjut, acara ini disiarkan secara langsung (live streaming) oleh akun Youtube ‘Al Jama’ah TV’ dengan durasi 3 jam 35 menit di laman https://youtu.be/L3UEu9KWTjA, serta di akun Youtube ‘Radio Silaturahim (Rasil) TV’ dengan durasi 3 jam 27 menit 36 detik.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.

Peneliti CSPS SKSG UI

LEAVE A REPLY