Masih Ada ‘Hati’ di Kota Megapolitan Jakarta

0
100

Apa yang dilakukan ketika terkurung hujan? Apalagi kalau tidak mencari tempat berteduh, kemudian sabar menanti sampai hujan berhenti.

Sembari menunggu ditemani ponsel (telepon seluler), ada tiga alternatif kegiatan ketimbang termenung-menung seorang diri.  Pertama chatting, kedua main games, dan yang ketiga, pilihan awak sebagai jurnalis adalah menulis.

Baiklah, berkisah kegiatan hari Ahad (16/2) setelah olahraga tennis, Pukul 10.30 WIB beserta istri berangkat ke Rumah Sakit (RS). Jantung Harapan Kita.

Niat semula bezoek sahabat Tjendrawasih. Namun berdasarkan keterangan resepsionis, ternyata beliau sudah pulang kemarin dengan catatan dalam keadaan baik. Ahai, awak tadi tidak cek dulu via telepon apakah masih dirawat.  Tetapi tidak apalah, semoga sedulur (saudara) Tjen sudah pulih, Amin.

Berkendara dari Trans Jakarta (TJ)menuju Pusat Grosir Cililitan (PGC) pada hari libur begini, tranportasi di kota Jakarta lancar dan TJ tidak terlalu penuh. Jadilah kami kategori lansia (lanjut usia) tidak perlu menggunakan tempat duduk prioritas.

Uff, hujan semakin deras di tempat berteduh di sebuah mart dekat halte Pasar Induk. Warga berteduh semakin ramai, sementara terlihat seorang anak muda sedang bertransaksi menjual jaket atau mantel hujan.

Di PGC tadi, istri membeli sepatu di toko langganan. Si Uda, urang awak, lagi asyik nonton live streaming (siaran langsung) Bulu Tangkis Asia. Awalnya tertarik juga atas info bahwa nanti pukul 15.00 WIB ialah final beregu putra Indonesia vs Malaysia.

Itulah sebabnya awak langsung pulang, sedangkan istri masih mampir dulu di Pasar Kramatjati. Maklum, ibu-ibu ada saja yang mau dibeli.

Di perjalanan, dua orang tuna netra lansia naik angkot. Luar biasa santun sopir angkot itu, seorang anak muda asal Medan. Dia membebaskan ongkos angkot dan akan menurunkan di halte Pasar Rebo.

Pasalnya, kedua saudara dhuafa suami istri itu akan melanjutkan perjalanan ke Ciputat menggunakan TJ. Biasanya, rute Angkot Nomor 11 PGC – Mekarsari lewat fly-over (jembatan layang) Pasar Rebo. Namun kali ini, atas kebaikan Sopir Angkot, maka akan lewat bawah saja agar dua pasangan tunametra itu lebih mudah pindah naik TJ.
Sudah 15 menit berteduh, hujan pun semakin deras. Untunglah awak mendapat tempat duduk di depan Indomart sehingga agak nyaman menulis liputan hujan dan kehidupan keseharian masyarakat.

Posisi baterai ponsel tinggal 4 %, nyaris low batt. Awak harus menyelesaikan liputan ini. Baru saja terlihat seorang ibu mengendong anak dan menawarkan kue. Bersegera awak beli 10 buah kue. Bukan bersebab iba karena anaknya mengidap autis, tetapi lebih kepada rasa kemanusiaan.

Ternyata, warga yang berteduh juga memborong dagangan si ibu. Inilah ibu kota negara Indonesia metropoitan dimana “hati” masih ada disini, berupa kepedulian antar sesama.

Salam-salaman.

Penulis: H. Thamrin Dahlan, M.Si.

Editor: Muhammad Ibrahim Hamdani

LEAVE A REPLY