Presiden RI Keenam, SBY: COVID-19 Menimbulkan Gejolak Ekonomi Serius

0
137
Sumber: https://news.detik.com/

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia (RI) Keenam, Jenderal TNI (HOR) (Purn). Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A., G.C.B., A.C., menilai bahwa virus corona jenis baru (COVID-19) telah menimbulkan gejolak ekonomi serius terhadap ekonomi global, termasuk Indonesia. Apalagi COVID-19 telah menjadi pandemi dunia.

“Simak rontoknya harga-harga saham, minyak dan nilai tukar. Juga berbagai pukulan yang menggoyahkan pilar dan fundamental perekonomian banyak negara. Termasuk Indonesia,” tutur Presiden RI Keenam yang akrab disapa SBY itu pada Selasa (17/3) malam, dalam pernyataan pers di Jakarta.

Seperti dikutip dari Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, SBY menyatakan bahwa akibat pandemi virus corona (COVID-19), Indonesia perlu menerapkan respon kebijakan yang tepat dan tidak terlambat. “Khususnya dalam menghadapi gejolak ekonomi global saat ini,” imbuhnya.

Selain itu, lanjut SBY, ekonomi Indonesia masih memiliki sejumlah masalah fundamental yang perlu dibenahi. Namun Presiden RI 2004-2014 itu optimistis bahwa akan ada upaya untuk menghadapi kesulitan gejolak ekonomi global saat ini

“Saya termasuk orang yang optimistis, tapi juga realistis. Selalu ada jalan ketika kita menghadapi kesulitan. Setiap masalah selalu ada solusinya, yang penting jangan terlambat untuk berbuat. Pilih solusi paling tepat dan jalankan dengan segala daya upaya. Insya Allah berhasil,” tegasnya.

SBY pun menjelaskan pengalamannya saat menghadapi krisis ekonomi global pada 1998 dan 2008. Pada 1998, Indonesia harus menerima dampak signifikan dari krisis ekonomi 1998. “Sedangkan pada 2008, ekonomi Indonesia bisa bertahan karena pemerintah mampu meminimalkan dampak krisis,” ungkapnya.

“Banyak pakar ekonomi, pemimpin dunia usaha, dan elemen pemerintah di banyak negara yang khawatir gejolak ini bisa membuat dunia jatuh ke resesi yang dalam dan panjang. Bahkan ada yang cemas kalau krisis ini jauh lebih berat dibanding tahun 1998 dan 2008 dulu,” papar Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Susilo Bambang Yudhoyono.

“Untuk meredakan badai ekonomi diperlukan penanganan bersama yang serius dan terus-menerus. Tentu termasuk kebijakan dan tindakan yang dilakukan secara nasional, di masing-masing negara,” ujarnya.

Tanda gejolak ekonomi yang serius itu, ucapnya, sudah ditunjukkan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, dengan memangkas suku bunga acuan sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 0 – 0,25 persen. “Bahkan Federal Reserve mengaktifkan kembali program pembelian aset (Quantitative Easing/QE) senilai 700 miliar dolar AS,” paparnya.

“Yang mengerti ekonomi, kalau The Fed sudah ‘menembakkan peluru kendali’ seperti ini, berarti situasi sudah serius. Berbagai bank sentral di seluruh dunia juga melakukan langkah-langkah yang serupa,” jelasnya.

Sumber: LKBN Antara

Editor: Hamdani

LEAVE A REPLY