Lukmanul Hakim: “Indonesia Mengalami ‘Loss Generation’ Jika Gagal Mewujudkan Ketahanan Pangan”

0
160
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=GDLDW5Z5T9Q&t=1456s atau Staf Khusus (Stafsus) Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), Ir. H. Lukmanul Hakim, M.S.i., Ph.D.

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Negara yang tidak mampu mewujudkan ketahanan pangan dapat menghadapi kehilangan generasi, loss generation, akibat penyakit seperti gagal gizi, stunting. Apalagi jumlah penderita stunting di Indonesia masih cukup tinggi. Kondisi ini semakin buruk dengan munculnya pandemi Corona Virus Desease 2019 (COVID-19).

Seperti dikutip dari laman https://www.youtube.com/watch?v=GDLDW5Z5T9Q&t=1456s, Staf Khusus (Stafsus) Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), Ir. Lukmanul Hakim, M.Si., Ph.D., menyatakan hal itu pada Rabu (15/7), saat menjadi narasumber dalam Seminar Daring bertema Anak Muda dan Ketahanan Pangan.

Seminar Daring ini diselenggarakan oleh Center for Strategic and Policy Studies (CSPS) – Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) pada Pukul 09.30 – 12/30 Waktu Indonesia Barat (WIB). Kegiatan ini diselenggarakan bekerja sama dengan Rumah Produktif Indonesia (RPI) dan Global Youth Indonesia (GYI).

Problem dari pangan itu, kita bisa menyebabkan kehilangan generasi, loss generation, ini menjadi fokus utama pemerintah, termasuk di kantor Wapres, juga fokus pada program-program ketahanan pangan, termasuk tentang penanganan stunting (gagal gizi),” tutur Ir. Lukmanul Hakim, Ph.D. pada Rabu (15/7).

Menurutnya, prevalensi (penderita) stunting di Indonesia pada tahun 2019 itu tercatat sekitar 27,567 persen. Artinya, kira-kira sekitar 3 anak dari 10 anak di Indonesia itu mengalami stunting atau gagal gizi. “Hal ini menjadi tantangan tersendiri ketika nanti generasi masa depan ternyata hanya ada sekitar 70 persen saja yang kuat,” ucapnya.

Kondisi ini, lanjutnya, menjadi tantangan kita semua. Saat ini sedang kita galakkan penanggulangan stunting di Indonesia, meskipun angka prevalensi stunting ini terus turun dari tahun ke tahun. “Terkait ketersediaan pangan, kita bicara tentang empat sumber gizi seperti karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin,” imbuhnya.

“Karbohidrat sumber utamanya adalah beras, meskipun ada sumber-sumber lain seperti jagung, dan kentang. Masalahnya, kita masih impor untuk beras, jagung, dan kedelai. Lalu kita bicara sumber protein hewani, misalnya sapi dan daging merah, kita pun masih impor,” ucapnya.

Misalnya, ungkap Ir. Lukmanul Hakim, Ph.D., sesuai data pada tahun 2019, rata-rata jumlah konsumsi daging merah di Indonesia itu masih sekitar 2,2 Kilogram per kapita, dengan perbandingan Malaysia sudah 9 Kilogram per kapita.

“Bahkan konsumsi daging merah di Brazil sudah mencapai 30 Kilogram per kapita dan di Jerman sudah 50 Kilogram per kapita. Ini adalah perbandingan-perbandingan ketersediaan pangan di dunia,” ungkapnya.

Artinya, jelas Ir. Lukmanul Hakim, Ph.d., dengan ketersediaan pangan kita yang kecil dan konsumsi daging merah per kapita hanya sekitar 2,2 Kilogram, maka dampak kedepannya dapat menyebabkan loss generation.

Menurutnya, jika ketahanan pangan ini tidak menjadi gerakan massal di Indonesia, maka bisa menimbulkan loss generation di Indonesia. Harus ada keterlibatan semua pihak untuk mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia, tidak bisa hanya pemerintah.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

Bendahara CSPS SKSG UI / Redaktur NEWSCOM.ID

LEAVE A REPLY