Petani Inspiratif Kampar, Berhasil Olah Lahan Sempit Dengan Budidaya 3 Komoditi Pertanian

0
354

NEWSCOM.ID – Memiliki lahan pertanian sempit tidak menjadi penghalang bagi petani untuk memperoleh penghasilan yang tinggi. Seperti Fatkhul Bahri, petani hortikultura asal Sungai Simpang Dua, Kampar Kiri Hilir, Kampar – Riau yang sukses mengoptimalkan lahan seluas 2.000 meter persegi untuk menanam tiga komoditi pertanian.

“Tertarik bertani karena terinspirasi bapak mertua. Waktu itu mulai belajar bertani tahun 2010, gagal hingga sekitar tujuh kali, karena memang ilmunya kurang terus saya pikir semakin banyak pupuk akan tumbuh bagus ternyata malah mati,” terang Bahri sambil tertawa mengingat momen awal ia bertani, Rabu(19/10/2022).

Mengawali paparannya sebagai narasumber inspiratif pada webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 91 yang ditayangkan via daring zoom dan streaming di TANITV, Bahri(36) mengisahkan baru mulai bertani secara mandiri di tahun 2011, dengan menggunakan lahan desa yang dikhususkan untuk pertanian.

“Jadi desa saya itu ada lahan seluas 8 hektar yang memang diperuntukan bagi warganya untuk pertanian dengan sistem ganti rugi ke desa. Saya memanfaatkan lahan seluas 2.000 meter persegi, untuk tanam jagung awalnya,” ujarnya.

Seiring berjalan waktu, Bahri mulai bertani dengan sistem tumpang sari dengan jeruk nipis dan buah naga. Menurut Bahri dengan tiga komoditi ini bisa menghasilkan income harian dan bulanan.

“Jeruk nipis usia 6-8 bulan sudah bisa panen terus menerus, begitu juga dengan buah naga setiap dua bulan bisa panen,” jelasnya.

Bahri mengatakan menanam 150 batang jeruk nipis dan 25 batang buah naga. Bahkan di awal Bahri berinisiatif tanam jeruk nipis banyak di lahannya, ia ditertawai beberapa rekan petaninya.

“Pertama diketawain, ‘gila kamu ya, buat apa tanam jeruk nipis banyak-banyak, memang ada pasarnya’. Alhamdulilah saya buktikan dengan hasil, sekarang panen dua hari sekali 60-70 kg dengan harga 5.000 rupiah per kg. Dari situ jadi berbalik arah, mereka jadi tanya ke saya bagaimana budidayanya, cari pasarnya,” ujar Bahri sambil tertawa.

Bahri menuturkan menanam 4.000 batang jagung manis bisa panen hingga 800-900 kg dalam  65 hari dengan harga 4.500 rupiah per kg, sedangkan untuk buah naga setiap panen bisa mencapai 300-400 kg dengan harga 25.000 per kg. Selain itu ada income lain setiap dua minggu sekali dari usaha budidaya pembibitan sawit.

“Ada 4 rekan petani yang berkolaborasi dengan saya, jadi saya bina untuk tanam dengan sistem tumpang sari juga. Saya arahkan juga untuk membuat jadwal tanam yang berbeda, sehingga tidak terjadi penumpukan produksi panen yang bisa menyebabkan harga komoditi menurun,” terangnya.

Dengan sistem tanam yang terjadwal, menurut Bahri selain bisa menjaga kestabilan harga pasar juga bisa panen secara terus menerus sehingga pendapatan juga terus ada bagi petani. Bahri juga mengatakan sudah menggunakan 70%  pupuk organik dalam budidayanya, karena ia bertani di lahan gambut yang membutuhkan penanganan ekstra untuk mengatur ph tanah dan kontrol airnya.

Aris Eko Sedijono, selaku pengurus Intani dan host menyampaikan hal penting yang perlu digaris bawahi yaitu kecerdasan Bahri dalam mengelola sistem tanam terjadwal dan mencari pasar komoditi yang dianggap kurang laku di pasaran.

Di akhir webinar, Bahri menyampaikan prinsipnya untuk sukses bertani dengan lahan sempit dan bisa menghasilkan income yang maksimal yaitu mengoptimalkan lahan dengan menanam komoditi yang menarik serta banyak belajar untuk mengingkatkan produktifitas. “Intinya harus berani mencoba, kalau tidak mencoba sekarang tidak akan ada kesempatan lain lagi,” pungkas Bahri.*

LEAVE A REPLY