Dari Soeharto Hingga JK: Diplomasi Damai Indonesia di Palestina (Bagian 1)

0
94
Sumber: Tawaf TV / Muhammad Ibrahim Hamdani / https://youtu.be/gfd-jnklxg4

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI) Ke-10 dan Ke-12, Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, M.B.A., telah melakukan pendekatan kemanusiaan kepada Palestina dan Israel. Tujuannya ialah mewujudkan perdamaian, menghentikan agresi Israel, dan menekan Israel untuk mengakui kemerdekaan Palestina.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, H. Muhammad Jusuf Kalla mengambil posisi dan peran penting dalam merintis upaya perdamaian di tanah Palestina. Bahkan beliau berkunjung ke sejumlah lokasi di Israel dan Palestina, lalu bicara dari hati-ke hati dengan kedua belah pihak.

“Saya tiga kali ke Israel, dan ke Ramallah tiga kali, baik ke Tel Aviv, ke Yerusalem. Saya di Ramallah, di Palestina, ke Nablus, ke Jericho, melihat (di sana). Sayang saya belum ke Gaza. Tapi bukan sebagai Wakil Presiden, sebagai Ketua PMI, karena Ketua PMI bebas,” jelasnya pada Jumat (19/8) siang.

Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu, kehadirannya di Palestina dan Israel ialah atas permintaan dari Palang Merah Internasional.

“Saya diminta oleh Palang Merah Internasional untuk mendamaikan Palang Merah Israel, namanya lain, dengan Bulan Sabit Merah Palestina. Karena itu saya rapat di Palestina, Di Tel Aviv, rapat di Ramallah. Saya tinggal di Ramallah tiga malam, di guest house-nya Palang Merah,” ungkapnya.

Menurutnya, Palang Merah di Palestina itu hebat karena memiliki wisma tamu yang besar. “Hebat di sana (Palestina) Palang Merah, punya guest house yang besar. Begitu situasinya,” ungkap saudagar sukses yang lahir di Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, pada 15 Mei 1942 itu.

Wapres Ke-10 dan Ke-12 yang akrab disapa JK ini menjelaskan peran penting dan posisinya dalam mewujudkan perdamaian di Palestina. Tepatnya saat beliau menjadi narasumber utama (keynote speaker) dalam Seminar Nasional bertema: “77 Tahun Indonesia Merdeka: Peran Indonesia Mendukung Kemerdekaan Palestina”.

Seminar nasional ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa (Hima) Kajian Timur Tengah dan Islam (KTTI) – Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) – Universitas Indonesia (UI) bekerja sama dengan SKSG UI dan Tawaf TV.

Kegiatan ini berlangsung di Lantai 5, Gedung Institute for Advancement of Science Technology and Humanity (IASTH), Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat.

“Peran Indonesia lebih banyak diplomatik dan politik dan seruan-seruan, pernyataan-pernyataan. Yang paling berani sebenarnya, mendekati itu Pak Harto. Pak Harto tahun 1993 itu mengundang Yasser Arafat ke Jakarta,” paparnya.

Dua bulan kemudian, lanjutnya, Presiden Soeharto mengundang Perdana Menteri (PM) Yitzhak Rabin ke Jakarta. Jadi PM Yitzhak Rabin pernah ke Jakarta dan keduanya bicara di rumah Pak Harto. “Jadi tidak di Istana karena tidak diakui (oleh RI). Kalau Arafat diterima di Istana karena diakui. Tetapi Yitzhak Rabin itu ketemu Presiden di Cendana,” imbuhnya.

“Jadi yang paling tegas itu Pak Harto, yang menerima itu, berusaha mendekatkan, tetapi juga tidak berhasil, tapi sudah memberikan simpati. Setelah itu pernyataan demi pernyataan, demo demi demo,” ucapnya.

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2015-2020 itu pun mengakui pernah beberapa kali bertemu dengan perwakilan pemerintah Israel dalam sejumlah forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan World Trade Organization (WTO).

“Saya sendiri bertemu dengan menteri Israel, itu menteri perdagangannya, kita ketemu di Seattle, di Amerika, waktu (acara) WTO. Kita bicara, mereka minta hubungan perdagangan Indonesia harus jalan. Saya bilang bisa, kita mulai dari situ. Dia, timnya datang, tapi anda boleh berdagang,” katanya.

Tetapi kemudian, tuturnya, perjanjian dagang itu sulit dijalankan. Penyebabnya, orang Yahudi itu sulit dipercaya. “Dasar biasanya orang Yahudi susah juga dipercaya,” katanya dengan raut wajah kesal.

“Saya ketemu mereka, delapan orang, saya mula-mula saya bilang tiga-tiga ya, kau tiga saya tiga, eh datang delapan orang di kamar saya. Waah, terpaksa ambilkan kursi dari luar. Saya bilang ini pertemuan confidential. Dua hari kemudian muncul beritanya di Jerusalem Post. Saya bicara dengan mereka,” ujarnya.

Kegiatan ini disiarkan secara langsung (live streaming) oleh akun Youtube Tawaf TV di laman https://youtu.be/gfd-jnklxg4 dengan durasi 4 jam 18 menit 18 detik.

Adapun narasumber dalam acara ini ialah Aktivis Kemanusiaan Indonesia, Abdillah Onim, S.E.I., yang juga Ketua Pembina Nusantara Palestina Center (NPC), serta Ketua Program Studi (Prodi) Kajian Wilayah Eropa (KWE) – SKSG UI, Dr. Polit. Sc. Henny Saptatia Drajati Nugrahani, M.A.,

Narasumber lainnya ialah Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Palestina, Omar Barghouti, yang juga Pendiri Palestinian Campaign for The Academic and Cultural Boycott of Israel (PACBI). Beliau pun menjadi co-founder Boycott, Divestment and Sanctions (BDS) Movement dan hadir secara daring.

Hadir juga Direktur Timur Tengah, Direktorat Jenderal (Ditjen) Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI, Bagus Hendraning Kobarsyih, M.Si., secara daring, sebagai narasumber.  Turut hadir Direktur SKSG UI, Athor Soebroto, S.E., M.M., M.Sc., Ph.D., secara luring. Beliau juga memberikan kata sambutan dalam acara ini.

Adapun moderator dalam acara ini ialah Direktur Utama Tawaf TV, Pangeran Arsyad Ihsanul Haq, Lc., yang juga mahasiswa Prodi KTTI SKSG UI. Hadir pula Ketua Prodi KTTI SKSG UI, Yon Machmudi, Ph.D. Beliau pun memberikan kata sambutan dalam acara ini.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.

‘Host’ program Khazanah Timur Tengah di Tawaf TV

Ketua Departemen Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Pimpinan Pusat (PP) Perhimpunan Remaja Masjid (Prima) Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Direktur Jaringan Strategis dan Kerja Sama Inisiatif Moderasi Indonesia (InMind) Institute.

Wakil Sekretaris Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD PAB) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Anggota Dewan Pakar Organization of Islamic Cooperation (OIC) Youth Indonesia.

Peneliti merangkap Bendahara Center for Strategic Policy Studies (CSPS) – Center for Strategic and Global Studies (CSGS) – Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) – Universitas Indonesia (UI).

LEAVE A REPLY