Gerai Susu Olahan Sukses Tingkatkan Kesejahteraan Peternak Susu Perah di Cipageran

0
265

NEWSCOM.ID – Berdasarkan data pemerintah pada 2022, impor susu mencapai 80% untuk pemenuhan kebutuhan nasional. “Indonesia saat ini sebagian besar masih mengimpor susu dari berbagai negara, dan ini menjadi konsen kami bagaimana memproduksi susu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,” terang Ketua Umum Intani Guntur Subagja dalam pengantarnya pada webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 116.

Menurutnya kebangkitan sektor pertanian termasuk peternakan dan perikanan selama pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk membangun kemandirian pangan termasuk pemenuhan kebutuhan susu nasional.

“Ekosistem produksi susu ini harus dibangun terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir,” terangnya. Guntur menambahkan melalui Intani siap menjadi jembatan untuk menghubungkan stakeholder terkait demi terwujudnya pemenuhan produksi susu nasional.

Founder Gerai Olahan Susu Rina Rosdianawati selaku narasumber inspiratif menyampaikan beberapa hal yang menjadi kendala untuk meningkatkan produksi susu terutama dalam pemenuhan kebutuhan nasional.

“Kesejahteraan peternak susu perah masih sangat kurang, faktor yang paling dominan karena mereka tidak bisa mengolah hasil susu perahnya,” jelasnya.

Rina mengawali kiprahnya sebagai Program Sarjana Membangun Desa Wirausaha Pendamping [SMDWP] dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan [PKH] sejak 2014 hingga 2017 yang ditempatkan di Kota Cimahi. Kemudian fokus pada pengembangan Sentra Susu Cipageran.

“Dari situ kami memutuskan solusi tepat untuk membantu para peternak dengan membangun kelompok pengolahan susu. Kelompok ini didominasi para ibu rumah tangga,” ujarnya.

Dengan membuat produk olahan secara otomatis harga jual susu peternak meningkat. Baru di tahun 2016, Rina bersama dua rekannya mendirikan CV. Cipageran Agro Sejahtera dengan brand Gerai Susu Olahan.

“Awalnya untuk modal kami patungan, lalu coba promosikan dan alhamdulilah dapat CSR dari sebuah perusahaan,” ujarnya.

Tidak hanya pelatihan pembuatan produk, Rina juga mengajarkan para ibu-ibu menggunakan media sosial untuk pemasaran. “Para anggota memang kebanyakan tidak lulus sekolah, jadi untuk penggunaan whatsapp dan facebook butuh pelatihan tersendiri,” katanya.

Rina menceritakan walaupun dengan pemasaran yang terbatas, penjualan saat itu terus meningkat.

“Sayangnya malah timbul permasalahan baru, terjadi persaingan bisnis antar sesama anggota kelompok,“ ujarnya.

Perbaikan manajemen pun dilakukan, dengan pembagian scope  produksi dan pemasaran serta saling memasarkan produk sesama anggota. Kemitraan mulain dibangun hingga mendapat perhatian dari instansi terkait seperti Bank Jabar, BPPT, Diskopindagtan Kota Cimahi, Bappeda serta beberapa perguruan tinggi di Bandung.

Dari sekitar 20 ekor sapi perah menghasilkan produk olahan seperti susu kemasan, youghurt, kefir, permen karamel, cistik susu, kerupuk susu dan sabun susu. “Produksi susu kemasan mencapai 700cup per hari, youghurt 200 botol per minggu, dan permen karamel 12kg per minggu,” ujarnya.

Pemasaran sudah ke 8 perusahaan di kota Cimahi dan Bandung serta penjulan offline dan online di marketplace. “Saat ini kami sedang merencanakan untuk menambah cabang dan franchise serta wisata edukasi mulai dari budidaya peternakan hingga pengolahan susu,” tutupnya.

Kegiatan webinar ini dipandu oleh Ila Failani Komite Informasi, Komunikasi, & Kerjasama antar Lembaga Intani dan juga turut hadir Arief Kusnidar Analis Tenaga Kerja Disnakertrans Jawa Barat, serta ratusan peserta lain via daring & streaming di TANITV.*

LEAVE A REPLY