Konflik Perbatasan dengan China, Malaysia-Indonesia Berbeda Sikap

0
160
Sumber: https://nasional.kompas.com/

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Federasi Malaysia memiliki perbedaan sikap dalam menghadapi klaim sepihak pemerintah Republik Rakyat China (RRC) terhadap perbatasan kedua negara.

Perbedaan sikap dua negara tetangga ini terungkap dalam Diskusi Panel dengan tema Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia-Malaysia, pada Sabtu (25/1) siang, Pukul 13:30-14:50 WIB, di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta Pusat.

“Indonesia dan Malaysia sama-sama memiliki masalah perbatasan dengan China. Malaysia memilih untuk membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional. Bahkan Malaysia berhasil menang di Mahkamah Internasional,” tutur Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukkam) RI, Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD., S.H., S.U., M.I.P.

Berdasarkan pantauan NEWSCOM.ID, Prof. Mahfud MD menjadi salah satu narasumber dalam Diskusi Panel ini. Narasumber lainnya ialah Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., dan Menteri Pertahanan (Menhan) Persekutuan Malaysia, Yang Berhormat Tuan (YBT) Mohamad bin Sabu.

Adapun moderator dalam Diskusi Panel ini ialah Direktur The Wahid Foundation, Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid (Yenni Wahid).

Menurutnya, saat ini Indonesia sedang diganggu perbatasannya di Perairan Natuna oleh kapal nelayan dan patroli penjaga pantai (coast guard) China. “Namun Indonesia tidak membawa masalah perbatasan dengan China ini ke Mahkamah Internasional, berbeda dengan Malaysia,” jelas Prof. Mahfud MD pada Sabtu (25/1) siang.

Pemerintah RI, lanjutnya, justru bersikap tegas terhadap pelanggaran atas hak berdaulat oleh nelayan dan kapal patroli pantai China (coast guard) di Perairan Natuna. “Tidak ada negosiasi apa pun dengan pemerintah China. Karena sudah jelas itu (Perairan Natuna) wilayah (Zona Ekonomi Eksklusif/ ZEE) kita,” tegasnya.

Bahkan, lanjutnya, Dubes RRC  sudah menemui dirinya pasca memanasnya konflik perbatasan di Perairan Natuna. “Saat bertemu Dubes RRC (Dubes Xiao Qian), saya tegaskan bahwa Indonesia akan pertahankan Perairan Natuna dengan (seluruh) kemampuan yang ada. Tidak ada negosiasi dengan China,” ungkapnya.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, pakaian
Menteri Pertahanan Persekutuan Malaysia, Mohamad bin Sabu, Sumber: NEWSCOM.ID / Hamdani

Sedangkan dalam paparannya, Menhan Persekutuan Malaysia, Mohamad bin Sabu, menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) RRC, Wang Yi.

“Saat bertemu Menlu RRC, saya berharap agar China sebagai The New Power (kekuatan baru) di Asia dapat share prosperity (berbagi kemakmuran) dengan negara-negara di sekitarnya. Asalkan kita dapat maju bersama, kami akan mendukung China sebagai The New Power di Asia,” ungkap Menhan Malaysia, Mohamad bin Sabu pada Sabtu (25/1).

Menurutnya, RRC jangan meniru pemerintah Amerika Serikat (AS) yang hanya ingin maju sendiri tanpa berbagi kemakmuran dengan negara-negara di sekitarnya.

“Lihat saja negara-negara di sekitar AS seperti Meksiko, Guatemala, Kosta Rika, dan Nikaragua, semuanya bukan negara makmur. Mungkin hanya Kanada yang diizinkan AS untuk menjadi negara maju,” jelas Menhan Malaysia, Mohamad bin Sabu.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

LEAVE A REPLY