Cerita Sukses Petani Bungaraya Raup Omzet Ratusan Juta dari Tanam Bawang Merah

0
383

NEWSCOM.ID – Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI) setiap Rabu menyelenggarakan webinar inspirasi bisnis Intani ditayangkan via virtual zoom dan streaming di TANITV. Pada seri ke 87 mengangkat tema ‘Tanam Bawang Merah Sistim Semai Panen Cuan Ratusan Juta’, cerita tentang kisah sukses Mudofar,  petani asal desa Langsat Permai, Bungaraya, kab. Siak – Riau.

“Saya sudah dua tahun terakhir ini bertani bawang merah dengan sistim semai, jadi mulai dari biji bukan umbi,” terangnya mengawali paparan sebagai narasumber inspiratif, Rabu (21/09).

Mudofar mengisahkan sudah bertani sejak tahun 1995, saat itu fokus pada sektor pangan yaitu padi. Lalu pernah juga beralih ke tanaman cabai hingga akhirnya sekarang memilih budidaya bawang merah. “Saya otodidak belajar budidaya bawang merah, mulai tanam di lahan seperempat hektar hingga sekarang sudah satu hektar,” ujarnya.

Untuk lahan satu hektar membutuhkan modal sekitar 30 juta rupiah guna membeli benih, biaya perawatan dan lainnya. “Jadi untuk satu hektar lahan dibutuhkan 2kg benih dengan kisaran harga lima juta rupiah, sisanya untuk olah lahan, perawatan dan membeli pupuk serta fungisida”, jelasnya.

Hasil yang diperoleh pun cukup maksimal, Mudofar mengatakan panen terbarunya pada bulan Mei lalu mencapai 6 ton. “Alhamdulilah kemarin harga lagi bagus 25 ribu rupiah per kg, jadi kalau dihitung omzet saya sekitar 150 juta rupiah”.

Dengan hasil yang luar biasa, Julianto selaku host mengulik lebih jauh perbedaan keuntungan menggunakan sistim semai dengan umbi.

“Setelah saya pelajari memang bagi saya lebih menguntungkan menggunakan sistim semai, karena dari sisi modal lebih murah dan hasil penennya juga lebih banyak. Sedangkan jika saya menggunakan umbi, untuk memperoleh hasil satu ton bawang merah diperlukan sekitar dua kwintal umbi,” terang Mudofar.

Lebih lanjut Modufar menjelaskan cara pengaplikasian sistem semai untuk budidaya bawang merah. Ia mengatakan dibutuhkan lahan seluas 200 meter untuk penyemaian bibit, setelah disemai perlu ditutupi plastik transparan untuk menghindari terkena air hujan lalu disemprotkan fungisida secara berkala.

“Bibit siap dipindah tanam saat usia 40-50 hari, dan disarankan dipindah tanam waktu sore hari untuk menghindari stres pada tanaman. Untuk pemupukan saya berikan berkala dengan melarutkan NPK 2kg dengan 200 liter air, jumlah ini untuk seperempat hektar lahan lalu disemprotkan ke tanaman langsung”.

Mudodafar mengatakan dalam enam bulan bisa dua kali panen, tinggal mengatur jadwal semai dan tanamnya saja. Hingga saat ini sudah ada lima petani di daerahnya yang ikut berbudidaya bawang merah.

“Sebagai petani kita harus terus belajar dan melihat potensi, komoditi pertanian mana yang bisa memberikan nilai ekonomi lebih tinggi, lebih cepat perputarannya dan memiliki pasar yang bagus. Jadilah petani yang berinovasi untuk meraih kesuksesan,” pesan Mudofar.

Ketua umum Intani, Guntur Subagja dibuat kagum dengan pencapaian Mudofar, menurutnya Riau didominasi dengan sektor perkebunan tetapi Mudofar sukses membuktikan bahwa sektor hortikultura juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

“Mudofar ini luar biasa, berani mengambil resiko berbeda dari petani lain dengan memilih bertani bawang merah. Hingga kesuksesannya menjadi contoh bagi para petani lain untuk ikut bertani bawang merah. Sangat menginspirasi, mau terus belajar dan berbagi ilmu,” ujar Guntur.

Intani berencana untuk berkolaborasi membangun  database bersama agar bisa membangun satu rantai pasok yang lebih efisien sehingga membantu para petani, tidak hanya di Riau tetapi seluruh wilayah Indonesia. “Kami berharap jika ini terbentuk tidak ada lagi petani yang dirugikan saat terjadi fluktuasi harga khususnya bawang merah. Kesejahteraan petani adalah bentuk kekuatan ekonomi nasional,” pungkasnya.*

LEAVE A REPLY