Antara Korea Selatan, IRI Indonesia dan Komitmen Pelestarian Alam – Bagian 3 (Habis)

0
84
Sumber: IRI Indonesia, Ahad (2/7/24).

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) telah berfirman dalam Al-Qur’an, Surat Ar-Rum Ayat 41: ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Informasi ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup (LPLH) dan Sumber Daya Alam (SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dr. Ir. H. Hayu Susilo Prabowo, M.Hum., pada Sabtu (1/6/24) malam, di Sentul Edu Eco Tourism Forest, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Tepatnya dalam acara bertajuk: “Forest and Climate Youth Leadership Camp for Climate Action and Urban Forest Ecosystem atau Kamp Kepemimpinan Generasi Muda Hutan dan Perubahan Iklim untuk Aksi Iklim dan Ekosistem Hutan Kota.” Kegiatan ini diselenggarakan sejak Sabtu hinga Ahad (1-2/6/24).

“Sebagai manusia, khalifatullah fil ardh atau wakil Allah di muka bumi ini, kita memiliki tanggung jawab untuk memelihara alam semesta secara baik dan benar untuk mewujudkan kemaslahatan ummat,” tutur Fasilitator Nasional Interfaith Rainforest Initiative (IRI) Indonesia atau Prakarsa Lintas Agama untuk Hutan Tropis itu.

Jangan sampai kita merusak bumi dan lingkungan hidup, baik di daratan maupun di lautan, ungkapnya, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ar-Rum Ayat 41.

“Sebagai seorang Muslim, ada lima tugas pokok yang wajib dilakukan, yakni Memelihara Agama atau Hifz al-Din, Memelihara Jiwa atau Hifz al-Nafs, Memelihara Akal Sehat atau Hifz al-‘Aql, Memelihara Harta atau Hifz al-Mal, dan Memelihara Keturunan atau Hifz al-Nasl. Kelima tujuan syariah ini mustahil tercapai jika lingkungan hidupnya buruk,” jelasnya.

Menurutnya, perubahan iklim atau climate change yang kini terjadi di dunia, merupakan dampak langsung dari kerusakan permukaan bumi, baik di daratan maupun di lautan, akibat ulah manusia.

“Itu sebabnya, pola gerakan IRI Indonesia berfokus untuk mengatasi perubahan iklim global dengan berbasis pada tiga filosofi dasar, yakni Inspirasi, Edukasi dan Aksi. Tujuannya agar manusia, termasuk komunitas lintas agama, memiliki kesadaran bersama dalam menanggulangi perubahan iklim global,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Ir. H. Hayu Susilo Prabowo, M.Hum., pun mencontohkan praktik langsung dari ikhtiar dirinya untuk bersungguh-sunguh melawan perubahan iklim global, yakni dengan mendirikan KISUCI atau Komunitas Iklim Sungai Cikeas yang berlokasi di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

“KISUCI ini mengarusutamakan konsep Nature Based Solution atau Solusi Berbasis Alam dalam kemasan ekowisata. Alhamdulilah, KISUCI dikelola bersama dan telah memberikan manfaat pangan dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar Sungai Cikeas,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, KISUCI juga menjalin kerja sama erat dengan sejumlah lembaga pemerintah dan organisasi kemasyarakatan (ormas) dan organisasi profesi seperti Badan Rehabilitasi Gambut dan Mangrove (BRGM), MUI, Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI), dan IRI Indonesia.

“Kerja sama ini penting untuk menjalankan berbagai program ekowisata ramah lingkungan serta pencegahan terhadap perubahan iklim global di area KISUCI,” paparnya.

  • Keberagaman Peserta

Acara Kamp Kepemimpinan Generasi Muda Hutan dan Perubahan Iklim untuk Aksi Iklim dan Ekosistem Hutan Kota diikuti oleh 53 peserta. Mereka adalah generasi muda yang sangat kompak, penuh semangat dan energik, serta berasal dari latar belakang yang beraneka-ragam baik agama, suku bangsa, maupun bahasa daerah.

53 peserta acara berasal dari berbagai ormas keagamaan seperti LPLH – SDA MUI, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Lembaga Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (LHAAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Ada pula peserta lain yang berasal dari Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN). Kegiatan ini pun melibatkan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sebagai narasumber atau pengisi acara, yakni Ir. Abdon Nababan.

  • IRI Indonesia, “If We Hold On Together,” Kebersamaan.

Selain itu, pada malam terakhir acara, Sabtu (1/6/24), seluruh panitia dan peserta bersama-sama dengan Fasilitator Nasional IRI Indonesia, Dr. Ir. H. Hayu Susilo Prabowo, M.Hum., dan anggota Dewan Penasehat IRI Indonesia, antara lain Kanjeng Raden Harya Tumenggung (KRHT) Pinandita (P) Astono Chandra Dana.

Hadir juga Anggota Dewan Penasehat IRI Indonesia lainnya, antara lain Pendeta Romo Agustinus Heri Wibowo Pr., S.H., dan Drs. H. Mubariq Ahmad, M.A., Ph.D., serta fasilitator acara ini, Arifah. Hal menarik lainnya, Drs. H. Mubariq Ahmad, Ph.D., memandu seluruh peserta, panitia, dan pengisi acara untuk bersama-sama menyanyikan sebuah lagu.

Lagu itu berjudul “If We Hold On Together,” yang bermakna kebersamaan, kepedulian terhadap sesama, dan gotong-royong antar sesama manusia. Lagu ini dinyanyikan oleh Diana Ross dan ditulis lirik lagunya oleh James Horner pada 1988. Serentak, seluruh panitia dan peserta yang hadir pun menyanyikan lagu itu bersama-sama.

Lebih lanjut, selesai acara penyampaian materi di sesi malam terakhir acara, seluruh peserta bersama-sama dengan panitia, fasilitator dan pengisi acara pun sama-sama menikmati makan malam. Hal yang istimewa, panitia telah menyiapkan menu kuliner kambing guling untuk dinikmati oleh seluruh peserta yang hadir. Malam hari itu sungguh menimbulkan rasa kebersamaan antar seluruh hadirin.

Sebelumnya pada Sabtu (1/6/24) pagi,  terdapat dua hal unik yang penulis alami dalam kegiatan ini. Pertama adalah Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” 3 Stanza yang dinyanyikan bersama-sama oleh peserta dan panitia di awal acara. Kedua ialah Peringatan Hari Lahir Pancasila pada Sabtu, 1 Juni 2024, dengan menyanyikan lagu ‘Garuda Pancasila’.

  • Workshop: Agama, Manusia dan Lingkungan Hidup

Penulis pun sangat bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) karena telah mendapatkan kesempatan istimewa untuk menjadi moderator dalam workshop di acara ini pada Sabtu (1/6/24). Workshop ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ir. Abdon Nababan dari AMAN dan Hening Purwati Parlan, S.Sos., M.M., dari Muhammadiyah.

Saat ini, Ir. Abdon Nababan adalah Penasehat di The Samdhana Institute, dan menjadi Ketua Dewan AMAN Nasional (DAMANNAS). Sedangkan Hening Purwati Parlan, M.M., mengemban amanat sebagai Wakil Ketua II Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Dalam workshop atau diskusi ini, Ir. Abdon Nababan membahas seputar “Hutan Tropis, Kearifan Lokal dan Masyarakat Adat.” Sedangkan Sedangkan Hening Purwati Parlan, M.M., membahas seputar: “Peran Agama dalam Solusi Krisis Iklim”.

Dalam paparannya, Ir. Abdon Nababan menjelaskan seputar lima prinsip hidup masyarakat adat di nusantara yang berbasis kearifan lokal dan terkait dengan alam, yakni: Pertama, berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Besar. Kedua, keterhubungan dengan leluhur melalui Hutan Adat dan Sungai Adat. Ketiga, hubungan dengan alam semesta. Keempat, hubungan dengan sesama manusia. Kelima, hubungan dengan makhluk lain (hewan, tumbuhan, makhluk gaib) agar terwujud kehidupan harmoni di dunia.

“Saat ini, terdapat 2.731 komunitas adat yang hidup di hutan-hutan tropis Indonesia, dengan populasi sekitar 20 juta jiwa dan lebih dari 1.800 bahasa. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia adalah sebuah mega biodiversity country, negara dengan keberagaman hayati yang luar biasa besar, termasuk penduduknya,” paparnya.

Sementara itu, Hening Purwati Parlan, M.M., menjelaskan seputar tiga prinsip utama dalam agama Islam terkait peran dan fungsi kehidupan manusia sebagai khalifatullah fil ardh atau khalifah Allah di muka bumi, yakni: Pertama, HablumminAllah atau hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Kedua, Hablumminannas atau hubungan antar sesama manusia di dunia. Ketiga, Hablum minal ‘alam atau hubungan manusia dengan alam.

“Hal ini (Hablum minal ‘alam) terkait erat dengan tugas pokok, peran dan fungsi manusia untuk memanfaatkan dan mengelola alam semesta secara bertanggung jawab, efektif dan efisien,” ungkapnya.

Menurutnya, demi menjaga kelestarian lingkungan hidup dan alam semesta, manusia harus berikhtiar sungguh-sungguh untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran, dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

“Kita harus bahu-membahu mencegah perusakan alam dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar, termasuk perusakan alam atas nama agama,” ujar Hening Purwati Parlan, M.M.

  • Jejak Korea Selatan

Lebih lanjut, acara ini istimewa karena berlangsung di lokasi yang menjadi lokasi kerja sama antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia (RI), yakni Perusahaan Umum (Perum) Perhutani, dengan Korea Forest Service Republik Korea (Korea Selatan).

Sebagai peserta perwakilan dari MUI, penulis melihat langsung dua bendera negara berkibar dengan tegak di lapangan utama lokasi acara, yakni bendera RI dan bendera Korea Selatan. Penulis juga melihat prasasti terkait pembangunan Millenials Hall atau Aula Milenial yang menjadi lokasi utama kegiatan ini.

Prasasti Aula Milenial mengandung tulisan “Inauguration of Millenials Hall of Sentul Eco Edu Tourism Forest to commemorate the contribution by the Korea Forest Service of the Republic of Korea to the Management of Sentul Eco Edu Tourism Forest“. Prasasti berbahan dasar batu marmer hitam itu ditandatangani pada 6 April 2021 oleh empat pihak.

Keempat pihak itu ialah Presiden Direktur Perum Perhutani, Wahyu Kuncoro, Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Dr. Ir. Bambang Hendroyono, M.M., dan Direktur Jenderal International Affairs Bureau – Korea Forest Service, DrPark Eun-sik, dan Direktur Korea-Indonesia Forest Center, Lee Sung-Gil.

Sewaktu sampai di lokasi acara, penulis pun disambut langsung oleh sebuah prasati dari batu marmer berwarna hitam dengan tulisan: “Inauguration of Crossing Bridge of Sentul Eco Edu Tourism Forest To commemorate the contribution by the Korea Forest Service of The Republic of Korea to The Management of Sentul Eco Edu Tourism Forest (SEETF)“.

Prasasti tersebut ditandatangani pada 17 Juni 2019 di Sentul, Bogor, oleh tiga pihak, yakni Direktur Korea-Indonesia Forest Center, Kim Yongchul, Bupati Bogor, Ade Yasin, dan Presiden Direktur Perum Perhutani, Denaldy M. Mauna.

  • Permasalahan Iklim Global dan KISUCI

Sebelumnya, saat memberikan kata sambutan dalam pembukaan acara pada Sabtu (1/6/24) pagi, Ketua LPLH SDA MUI Pusat, Dr. Ir. H. Hayu Susilo Prabowo, M.Hum., menjelaskan seputar permasalahan yang kini dihadapi dunia internasional terkait lingkungan hidup. Masalah-masalah itu, antara lain, ialah ekosistem global yang terancam krisis karena semakin berkurangnya biodiversitas atau keanekaragaman hayati di dunia.

“Diantara penyebab semakin berkurangnya biodiversitas global ialah pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) akibat ulah manusia. IRI Indonesia bersama-sama dengan IRI Global berkomitmen teguh untuk mengatasi perubahan iklim dan mempertahankan kelestarian hutan tropis dunia,” tuturnya.

Selanjutnya, Fasilitator Nasional IRI Indonesia itu juga memperkenalkan konsep nature based solution atau solusi berbasis alam untuk lingkungan hidup. “Tujuannya ialah ikhtiar untuk menyelesaikan problematika manusia dengan solusi berbasis alam,” imbuhnya.

“Alhamdulillah, saat ini kami sedang mengembangkan KISUCI atau Komunitas Iklim Sungai Cikeas dengan konsep Nature Based Solution. Di sana, kita bisa langsung mempraktikkan ilmu-ilmu terkait lingkungan hidup seperti menanam tumbuhan dengan pola multikultur, membuat pupuk kompos, serta pengelolaan sampah ramah lingkungan,” jelasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.

Wakil Sekretaris Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD PAB) Majelis Ulama Indonesia (MUI).

LEAVE A REPLY