Antara Petani, Dua Sisi Tengkulak dan Inklusi Keuangan

0
279
Sumber: Akun Youtube CNBC Indonesia, “Akses Permodalan Sulit Petani Indonesia Susah Naik Kelas,” https://youtu.be/XLAmU4mWN8s.

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI), Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si., menyatakan bahwa lembaga Financial Inclusion atau Inklusi Keuangan dapat menjadi solusi jitu bagi petani untuk mengakses sumber-sumber modal usaha sekaligus menghindari tengkulak.

“Nah, salah satu solusi financial inclusion misalnya, ini mungkin adalah bagaimana bisa mengoptimalkan jaringan mereka (tengkulak), tapi dengan sumber dana yang murah, apakah itu sumber dana dari pemerintah, apakah sumber dana dari lembaga-lembaga sosial, atau sumber dana sumber dana lainnya,” tuturnya pada Kamis (3/8) pagi.

Tepatnya saat Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) INTANI itu diwawancarai oleh CNBC Indonesia dalam program FoodAgri Insight pada Kamis (3/8) pagi, seperti dikutip dari akun Youtube CNBC Indonesia di laman https://youtu.be/XLAmU4mWN8s dengan judul: “Akses Permodalan Sulit, Petani Indonesia Susah Naik Kelas”.

Syaratnya, lanjut Guntur Subagja, ialah sumber-sumber dana inklusi keuangan itu ujung tombaknya bisa sampai bersentuhan langsung dengan petani. Terkait hal ini, kelemahan perbankan ialah baru sampai di kota-kota, belum sampai ke desa sehingga tidak dapat menyentuh petani secara langsung.

“Ada financial inclusion yang sekarang ada dengan EDC (Electronic Data Capture), itu juga bagian dari pelayanan. Tapi karakter petani itu memang agak berbeda. Misalnya, bukan mereka yang harus datang ke bank. Tapi bagaimana account officer bank-nya itu yang datang ke sawah,” ujarnya.

Karena (kalau) mereka datang ke bank, ungkapnya, (petani) meninggalkan lahan setengah hari, karena antri, bagi mereka sudah kehilangan. “Nah, ini yang sebetulnya harus kita dekatkan,” imbuhnya.

Ada lembaga-lembaga keuangan seperti BMT (Baitul Maal wat Tamwil) dan koperasi, ucapnya, ini juga menarik. Justru sektor ini harus kita perbanyak. “Tapi bagaimana yang tadi, dia (petani) mendapatkan sumber (dana) yang murah, kemudian bisa disalurkan juga lebih murah,” katanya.

Lebih lanjut, Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) itu pun melihat peran dan fungsi tengkulak secara objektif, baik kelebihan maupun kekurangannya.

“Kita harus melihat secara objektif dua sisi tentang tengkulak. Kalau di mata petani, mereka bisa jadi pahlawan. Karena apa? Dia (tengkulak) bisa melayani petani setiap saat, 24 jam. Sekarang ada perbankan atau lembaga keuangan mana yang bisa melayani kebutuhan petani 24 jam?” ungkap Guntur Subagja.

Misalnya petani berhubungan dengan tengkulak, lanjut Sekretaris Lembaga Wakaf Majelis Ulama Indoensia (MUI) Pusat itu, tiba-tiba besoknya butuh bayar SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) untuk sekolah anaknya, dia bisa dengan mudah minta, hari itu dapat. “Ada juga yang sakit, malam itu juga dibantu (oleh tengkulak),” imbuhnya.

“Di sisi lain, ini hal-hal yang sebenarnya positif. Tapi di lain sisi, saya nggak ngerti apakah karena cost of fund yang diperoleh tengkulak ini tinggi, perhitungan bunga ke petaninya kan juga cukup tinggi sehingga sangat memberatkan. Apalagi banyak juga yang praktik ijon. Nah, ini yang sebenarnya harus dicrikan solusinya,” paparnya.

Menurutnya, INTANI tidak mendukung tengkulak, namun lebih pada melihat realitas di lapangan dimana tengkulak beraktivitas. “Perspektifnya seperti itu. Nah, bagaimana ini kita benahi, kita rapihkan. Kalau mereka (tengkulak) mungkin sumber dananya murah, dia juga, kalau pun ambil margin, yang disalurkannya (dana) murah,” kata Guntur SUbagja.

Sumber: Akun Youtube CNBC Indonesia, “Akses Permodalan Sulit, Petani Indonesia Susah Naik Kelas,” https://youtu.be/XLAmU4mWN8s.

Penulis dan Editor: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.

Peneliti CSPS SKSG UI

LEAVE A REPLY