Antara Korea Selatan, IRI Indonesia dan Komitmen Pelestarian Alam – Bagian 2

0
89
Sumber: IRI Indonesia

NEWSCOM.ID, KABUPATEN BOGOR – Perjalanan menyusuri jalan setapak di tengah hutan atau jungle track, dalam kawasan Sentul Edu Eco Turism Forest, telah menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan bertajuk: Forest and Climate Youth Leadership Camp for Climate Action and Urban Forest Ecosystem pada Ahad (2/7/24).

Kondisi perjalanan jungle track sangat menantang, dengan jalan tanah setapak yang licin dan terjal seperti tanah liat, dengan kontur naik dan turun, akibat beberapa kali hujan deras selama acara berlangsung. Bahkan penulis sempat terjatuh tiga kali karena tepeleset dan hilang keseimbangan tubuh di atas tanah yang licin itu.

Selama perjalanan jungle track berlangsung, terlihat pemandangan alam yang sangat indah. Terdapat pohon-pohon karet yang tinggi menjulang, bahkan beberapa diantaranya sedang diambil getah karetnya dengan wadah plastik bekas air kemasan. Ada pula bibit-bibit tanaman durian dan alpukat yang ditanam di bidang tanah terpisah dengan pola tanam monokultur.

Acara Kamp Kepemimpinan Generasi Muda Hutan dan Perubahan Iklim untuk Aksi Iklim dan Ekosistem Hutan Kota juga diikuti oleh 53 peserta. Mereka adalah generasi muda yang penuh semangat, sangat kompak dan energik, serta berasal dari latar belakang yang beraneka-ragam.

53 peserta acara berasal dari berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan seperti Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup (LPLH) dan Sumber Daya Alam (SDA) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, serta Lembaga Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (LHAAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Ada pula peserta lain yang berasal dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Buddha Indonesia (PERMABUDHI) dan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (MATAKIN). Kegiatan ini pun melibatkan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sebagai pengisi acara.

Lebih lanjut, para peserta juga sempat beristirahat sejenak di tepi Sungai Cikeas, Kabupaten Bogor, sewaktu berada di jungle track. Di sana, para peserta menikmati arus sungai yang cukup kencang, sambil saling bercengkerama dan foto bersama. Ada pula yang mencuci sepatu, kaus kaki, sandal, atau sekedar mencuci muka, tangan dan kakinya.

Air Sungai Cikeas pun terasa sangat sejuk dan dapat menyegarkan kembali tubuh yang lelah dan letih. Tepatnya setelah kami menyusuri jalan setapak sejauh sekitar 1,5 Kilometer. Bahkan pihak panitia menggunakan teknologi drone untuk mengambil momentum istimewa, saat para peserta berada di sungai.

Kegiatan Kamp Kepemimpinan diselenggarakan sejak Sabtu hingga Ahad (1-2/6/24) oleh Interfaith Rainforest Initiative (IRI) atau Prakarsa Lintas Agama untuk Hutan Tropis. Adapun penanggung jawab acara ialah Ketua LPLH SDA MUI Pusat, Dr. Ir. H. Hayu Susilo Prabowo, M.Hum., yang juga Fasilitator Nasional IRI Indonesia.

Selain itu, terdapat dua hal unik yang penulis alami dalam kegiatan di atas, yakni Lagu Kebangsaan Indonesia Raya 3 Stanza yang dinyanyikan secara bersama-sama oleh peserta dan panitia di awal acara, Sabtu pagi (1/6/24), serta Peringatan Hari Lahir Pancasila pada Sabtu, 1 Juni 2024, dengan menyanyikan lagu Garuda Pancasila.

Penulis pun sangat bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) karena telah mendapatkan kesempatan istimewa untuk menjadi moderator dalam workshop di acara ini pada Sabtu (1/6/24). Workshop ini menghadirkan dua narasumber, yakni Ir. Abdon Nababan dari AMAN dan Hening Purwati Parlan, S.Sos., M.M., dari Muhammadiyah.

Saat ini, Ir. Abdon Nababan adalah Penasehat di The Samdhana Institute, dan menjadi Ketua Dewan AMAN Nasional (DAMANNAS). Sedangkan Hening Purwati Parlan, M.M., mengemban amanat sebagai Wakil Ketua II Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Dalam workshop atau diskusi ini, Ir. Abdon Nababan membahas seputar “Hutan Tropis, Kearifan Lokal dan Masyarakat Adat.” Sedangkan Sedangkan Hening Purwati Parlan, M.M., membahas seputar: “Peran Agama dalam Solusi Krisis Iklim”.

Dalam paparannya, Ir. Abdon Nababan menjelaskan seputar lima prinsip hidup masyarakat adat di nusantara yang berbasis kearifan lokal dan terkait dengan alam, yakni: Pertama, berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Besar. Kedua, keterhubungan dengan leluhur melalui Hutan Adat dan Sungai Adat. Ketiga, hubungan dengan alam semesta. Keempat, hubungan dengan sesama manusia. Kelima, hubungan dengan makhluk lain (hewan, tumbuhan, makhluk gaib) agar terwujud kehidupan harmoni di dunia.

“Saat ini, terdapat 2.731 komunitas adat yang hidup di hutan-hutan tropis Indonesia, dengan populasi sekitar 20 juta jiwa dan lebih dari 1.800 bahasa. Hal ini membuktikan bahwa Indonesia adalah sebuah mega biodiversity country, negara dengan keberagaman hayati yang luar biasa besar, termasuk penduduknya,” paparnya.

Sementara itu, Hening Purwati Parlan, M.M., menjelaskan seputar tiga prinsip utama dalam agama Islam terkait peran dan fungsi kehidupan manusia sebagai khalifatullah fil ardh atau khalifah Allah di muka bumi, yakni: Pertama, HablumminAllah atau hubungan seorang hamba dengan Allah SWT. Kedua, Hablumminannas atau hubungan antar sesama manusia di dunia. Ketiga, Hablum minal ‘alam atau hubungan manusia dengan alam.

“Hal ini (Hablum minal ‘alam) terkait erat dengan tugas pokok, peran dan fungsi manusia untuk memanfaatkan dan mengelola alam semesta secara bertanggung jawab, efektif dan efisien,” ungkapnya.

Menurutnya, demi menjaga kelestarian lingkungan hidup dan alam semesta, manusia harus berikhtiar sungguh-sungguh untuk menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran, dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

“Kita harus bahu-membahu mencegah perusakan alam dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar, termasuk perusakan alam atas nama agama,” ujar Hening Purwati Parlan, M.M.

Lebih lanjut, acara ini istimewa karena berlangsung di lokasi yang menjadi lokasi kerja sama antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia (RI), yakni Perusahaan Umum (Perum) Perhutani, dengan Korea Forest Service Republik Korea (Korea Selatan).

Sebagai peserta perwakilan dari MUI, penulis melihat langsung dua bendera negara berkibar dengan tegak di lapangan utama lokasi acara, yakni bendera RI dan bendera Korea Selatan. Penulis juga melihat prasasti terkait pembangunan Millenials Hall atau Aula Milenial yang menjadi lokasi utama kegiatan ini.

Prasasti Aula Milenial mengandung tulisan “Inauguration of Millenials Hall of Sentul Eco Edu Tourism Forest to commemorate the contribution by the Korea Forest Service of the Republic of Korea to the Management of Sentul Eco Edu Tourism Forest“. Prasasti berbahan dasar batu marmer hitam itu ditandatangani pada 6 April 2021 oleh empat pihak.

Keempat pihak itu ialah Presiden Direktur Perum Perhutani, Wahyu Kuncoro, Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI, Dr. Ir. Bambang Hendroyono, M.M., dan Direktur Jenderal International Affairs Bureau – Korea Forest Service, DrPark Eun-sik, dan Direktur Korea-Indonesia Forest Center, Lee Sung-Gil.

Sewaktu sampai di lokasi acara, penulis pun disambut langsung oleh sebuah prasati dari batu marmer berwarna hitam dengan tulisan: “Inauguration of Crossing Bridge of Sentul Eco Edu Tourism Forest To commemorate the contribution by the Korea Forest Service of The Republic of Korea to The Management of Sentul Eco Edu Tourism Forest (SEETF)“.

Prasasti tersebut ditandatangani pada 17 Juni 2019 di Sentul, Bogor, oleh tiga pihak, yakni Direktur Korea-Indonesia Forest Center, Kim Yongchul, Bupati Bogor, Ade Yasin, dan Presiden Direktur Perum Perhutani, Denaldy M. Mauna.

Sebelumnya, saat memberikan kata sambutan dalam pembukaan acara pada Sabtu (1/6/24) pagi, Ketua LPLH SDA MUI Pusat, Dr. Ir. H. Hayu Susilo Prabowo, M.Hum., menjelaskan seputar permasalahan yang kini dihadapi dunia internasional terkait lingkungan hidup. Masalah-masalah itu, antara lain, ialah ekosistem global yang terancam krisis karena semakin berkurangnya biodiversitas atau keanekaragaman hayati di dunia.

“Diantara penyebab semakin berkurangnya biodiversitas global ialah pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) akibat ulah manusia. IRI Indonesia bersama-sama dengan IRI Global berkomitmen teguh untuk mengatasi perubahan iklim dan mempertahankan kelestarian hutan tropis dunia,” tuturnya.

Selanjutnya, Fasilitator Nasional IRI Indonesia itu juga memperkenalkan konsep nature based solution atau solusi berbasis alam untuk lingkungan hidup. “Tujuannya ialah ikhtiar untuk menyelesaikan problematika manusia dengan solusi berbasis alam,” imbuhnya.

“Alhamdulillah, saat ini kami sedang mengembangkan KISUCI atau Komunitas Iklim Sungai Cikeas dengan konsep Nature Based Solution. Di sana, kita bisa langsung mempraktikkan ilmu-ilmu terkait lingkungan hidup seperti menanam tumbuhan dengan pola multikultur, membuat pupuk kompos, serta pengelolaan sampah ramah lingkungan,” jelasnya.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.

Wakil Sekretaris Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa (PD PAB) Majelis Ulama Indonesia (MUI).

LEAVE A REPLY