Intani Terus Mensosialisasikan Pentingnya Membangun Ketahanan Pangan Mulai Dari Rumah

0
445

NEWSCOM.ID – Melalui webinar inspirasi bisnis Intani series yang diselenggarakan setiap Rabu secara daring via zoom dan streaming di TANITV, Intani terus menginpirasi masyarakat akan besarnya potensi sektor pertanian di Indonesia. Pada seri ke 79 mengangkat tema ‘Ketahanan Pangan Dimulai dari Pekarangan’, untuk mensosialisasikan bahwa membangun ketahanan pangan bisa dimulai dari rumah.

“Persolan krisis pangan bukan sekadar tidak adanya sumberdaya tetapi lebih karena budaya masyarakat yang terbiasa instan dan belum berpikir untuk mengoptimalkan potensi kecil yang bisa berdampak besar seperti pekarangan rumah,” terang Guntur Subagja, ketua umum Intani saat menyampaikan pengantarnya, Rabu (20/07).

Guntur mengatakan berkebun di pekarangan tidak hanya bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri tapi lebih dari itu sebagai gerakan untuk mencintai, merawat dan melestarikan alam serta membantu sesama.

“Maka kami di Intani berkomitmen untuk terus mensosialisasikan bagaimana membangun ketahanan pangan dimulai dari keluarga lalu membangun piloting ketahanan pangan skala desa hingga nasional,” ujarnya.

Target Intani bagaimana membangun ketahanan pangan mulai dari skala keluarga (aspek mikro), hingga bisa mandiri pangan dan tidak tergantung dengan impor (aspek makro).

Ida Amal, urban gardener narasumber yang inspiratif menyampaikan hal senada dengan ketua umum Intani. “Manfaat dari berkebun di pekarangan tidak hanya sekadar membantu memenuhi kebutuhan pangan kita tetapi juga memliki dampak yang luas seperti membangun iklim mikro, mengatasi perubahan iklim dan membangun ekosistem,” terang Ida mengawali paparannya.

Indonesia Berkebun yang digagas Ida bersama Kang Emil (Ridwan Kamil) serta rekan-rekan komunitasnya sejak 2010 memiliki tiga landasan yaitu, ekologi, edukasi dan ekonomi.

Ida menceritakan awal berkebun bersama komunitasnya di lahan perumahan daerah Kemayoran yang saat itu Kang Emil sebagai konsultan pembangunan perumahan di sana. “Jadi awal berkebun kami masih belum teratur, asal tanam saja karena memang anggota komunitas tidak ada yang berlatar belakang pertanian. Sampai kami waktu itu diajar cara berkebun yang benar oleh pekerja bangunan di sana,” ujarnya sambil tertawa.

Di pekarangannya, Ida menanam sayur mayur, buah-buahan seperti anggur dan strawberry serta beberapa jenis bunga. “Intinya berkebun itu disesuaikan dengan kebutuhan bukan sekadar ikutan tren, sayang kalau hasilnya tidak bisa dikonsumsi atau bingung mau diolahnya”.

Selain itu penting juga menggunakan sistem agroforestry dalam berkebun agar ekologi terjaga dan bisa menyesuaikan jenis tanaman dengan luas serta letak pekarangan.

“Penting sekali menjaga kebun tetap rapih, bersih dan terawat. Hal ini bisa membantu kita untuk mengurangi hama pada tanaman secara alami, bahkan saya sendiri jarang sekali menggunakan pestisida,” ujar Ida.

Ila Failani, selaku host turut menjelaskan bahwa menjadi urban gardener bukan hanya menjaga ketahanan pangan untuk bisa dikonsumsi,  selain itu pemanfaatan lahan pekarangan untuk pertanian ini berkontribusi menyediakan lahan hijau & lahan terbuka sebagai tempat rekreasi, enak dipandang dan menyegarkan udara.

Selain itu Eri Koswara, Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda DKPP Jawa Barat menambahkan permasalahan yang sering terjadi untuk sektor pertanian skala rumahan adalah bagaimana mengolah hasil produk bisa bertahan lama dan mengajak masyarakat untuk terus konsisten berkebun.

“Kami di Bandung juga ada kegiatan Buruan SAE, konsepnya sama dengan Indonesia Berkebun. Yang menjadi konsen kami saat ini adalah membuat langkah-langkah yang bisa dikolaborasikan untuk menyelesaikan kendala-kendala yang ada,” terang Eri.

Menanggapi hal tersebut Ida menyampaikan bahwa yang terpenting adalah mengedukasi masyarakat agar terbentuk mindset yang kuat akan pentingnya berkebun. “Berkebun itu jangan hanya sekadar ikut tren, tetapi harus punya landasan agar sustain,” pungkasnya.*

LEAVE A REPLY