Petani Milenial Desa Pasirlangu Sukses Raih Omzet Puluhan Juta Dari Budidaya Paprika

0
72

NEWSCOM.ID – Paprika menjadi salah satu komoditi pertanian yang memiliki potensi pasar besar di Indonesia. Potensi ini pun ditangkap oleh Wisnu Saepudin, petani asal desa Pasirlangu, Cisarua – Jawa Barat.

“Budidaya paprika itu untungnya tinggi, walaupun memang resikonya tinggi juga,” ujar Wisnu mengawali paparannya sebagai narasumber inspirasi bisnis Intani seri ke 82 yang ditayangkan streaming di youtube TANITV, Rabu (10/08).

Wisnu menceritakan awalnya ia bertani labu siam, namun karena nilai ekonominya yang kurang ia pun memutuskan untuk beralih ke paprika. “Saya otodidak belajar paprika mulai dari bibit, nutrisi, pengendalian hama sampai pasarnya. Awal budidaya dari lahan orang tua ada sekitar 6.000 pohon paprika, sampai sekarang saya punya 45.000 pohon dengan luas sekitar 1 hektar,” terangnya.

Di usianya yang baru 29 tahun, Wisnu menjadi ketua kelompok tani Berkah Tani dengan mengelola lahan sampai 5 hektar. “Kalau ditotal kami bisa panen 700 kg sampai 1 ton paprika per hari”.

Untuk pemasaran Wisnu mengaplikasikan supply management dengan sangat baik. “Untuk menjaga kestabilan harga, saya kerja sama dengan produsen di Bali dan Malang. Jadi ketika mereka sedang surplus panen paprika merah, maka saya akan panen lebih banyak paprika hijau. Sehingga supply dan demand seimbang dan harga tetap tinggi”.

Di tahun 2016, ia mulai membangun green house dan perlengkapannya sendiri dengan modal sekitar 100 juta rupiah. “Memang modal diawal itu besar, namun bisa dibilang itu bagian dari investasi cukup sebanding dengan yang diperoleh saat ini. Untuk bibit kami impor dari Taiwan, karena harga yang terjangkau sehingga bisa menekan biaya,” ujarnya.

Wisnu menjelaskan paprika jenis tanaman yang membutuhkan perawatan intens. “Paling rewel ini, dibanding cabai atau sayur. Untuk perawatannya sendiri tidak bisa asal, perlu disesuaikan penggunaan nutrisi dan pestisida tidak bisa disamaratakan untuk setiap pohon”.

Dengan segala resikonya, keuntungan yang diperoleh sangat menjanjikan dari 1 ton paprika Wisnu memperoleh keuntungan bersih satu hingga dua juta rupiah. “Itu baru dari bagi hasil dengan petani, belum dari keuntungan penjualan paprika lahan saya sendiri”.

Saat ini Wisnu sedang mempelajari regulasi ekspor, karena ia sangat tertarik untuk memperluas pasarnya. “Untuk sukses dalam bisnis kita harus bisa mendalami usaha kita, dipelajari betul dari hulu sampai hilir, fokus dan menjiwai,” pungkasnya.

Guntur Subagja, ketua umum Intani mengatakan dalam pengantarnya untuk masuk ke pasar ekspor wajib bagi para produsen menjaga 3K (kualitas, kuantitas, kontinuitas). “Perlu dibuat gambaran berapa skala produksi saat ini, lalu mampu memenuhi pengiriman dengan kuantitas berapa banyak dan mempelajari betul standar yang diminta pasar. Jika itu sudah siap, Intani akan menjebatani untuk fasilitas ekspornya salah satunya melalui Global Halal Hub yang dicanangkan Wapres Ma’ruf Amin”.

Kinerja Wisnu yang berhasil menjadi agregator bagi para petani di desanya patut untuk dicontoh. “Ketahanan pangan mencakup sektor supply management, produksi, pemerataan distribusi dan ekosistem berjejaring. Wisnu sukses di keempat sektor ini, dan pola seperti ini harus diduplikasi di berbagai daerah agar tercipta kemandirian ekonomi nasional,” tutup Guntur.*

LEAVE A REPLY