Lawan Abu Sayyaf, Indonesia Tawarkan Format Baru Maphilindo

0
299
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=5uZpP6XB8cY / Movie Time KTT Maphilindo di Filipina membahas masalah Malaysia yang melibatkan Indonesia, Filipina, dan Malaysia untuk mencari jalan keluar sehubungan dengan Konfrontasi antara Indonesia dan Filipina dengan Malaysia. Indonesia diwakili Presiden Sukarno, Filipina diwakili Presiden Diosdado Macapagal, dan Malaysia diwakili Perdana Menteri Tengku Abdurrahman.

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Pemerintah Republik Indonesia (RI) menawarkan format baru kerja sama Maphilindo kepada pemerintah Persekutuan Malaysia dan Republik Filipina. Tujuannya ialah menanggulangi kelompok separatis Abu Sayyaf yang sering menculik sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) di wilayah perairan Malaysia dan Filipina.

Berdasarkan pantauan NEWSCOM.ID, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukkam) RI, Prof. Dr. Mahfud MD., S.H., S.U., M.I.P., menyatakan hal itu pada Sabtu (25/1) siang.

Tepatnya dalam Diskusi Panel bertema Harapan Baru Dunia Islam: Meneguhkan Hubungan Indonesia-Malaysia yang berlangsung di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta Pusat.

Gambar mungkin berisi: 2 orang, pakaian
Sumber: https://www.youtube.com/watch?v=5uZpP6XB8cY / Movie Time KTT Maphilindo di Filipina membahas masalah Malaysia yang melibatkan Indonesia, Filipina, dan Malaysia untuk mencari jalan keluar sehubungan dengan Konfrontasi antara Indonesia dan Filipina dengan Malaysia. Indonesia diwakili Presiden Sukarno, Filipina diwakili Presiden Diosdado Macapagal, dan Malaysia diwakili Perdana Menteri Tengku Abdurrahman.

“Lebih baik kita memperkuat kerja sama Maphilindo sejak zaman Bung Karno untuk mengusir perompak itu (kelompok Abu Sayyaf), agar hubungan kerja sama antara Malaysia, Filipina, dan Indonesia semakin kuat. Sekarang yang tertahan ada lima. Yang 39 sudah bebas,” ujarnya pada Sabtu (25/1) siang.

Menurutnya, ketiga negara harus kompak untuk mengusir kelompok separatis Abu Sayyaf. Hingga saat ini, 44 orang WNI telah diculik oleh kelompok Abu Sayyaf di wilayah perairan Malaysia yang berbatasan dengan Filipina.

“Dari 44 orang (WNI) yang diculik itu, semuanya berhasil dibebaskan. Tercatat juga ada satu orang yang meninggal dunia, tetapi bukan karena diculik. Dia melarikan diri dan terjun ke laut saat hendak diculik kelompok Abu Sayyaf. Nyawanya tidak tertolong lagi setelah itu,” ungkap Prof. Mahfud MD.

Guru Besar Bidang Hukum Tata Negara pada Universitas Islam Indonesia (UII) itu pun mengungkap fakta di lapangan bahwa kelompok separatis Abu Sayyaf selalu menculik WNI di wilayah perairan Malaysia atau perairan Filipina.

“Kita harus punya pandangan yang sama tentang kelompok Abu Sayyaf. Mereka tidak berani menculik WNI di wilayah perairan Indonesia. WNI selalu diculik di Perairan Malaysia atau Filipina,” tegasnya.

Prof. Mahfud MD juga mengkonfirmasi akan berkunjung ke Malaysia dalam waktu dekat ini. Tujuannya agar pemerintah tidak buang-buang biaya, waktu dan sebagainya hanya untuk membabaskan WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf.

“Dalam waktu dekat kami ke sana (Malaysia) bahas Abu Sayyaf. Kita terus mengejar Abu Sayyaf,” ujarnya.

Mendengar hal ini, Menteri Pertahanan (Menhan) Persekutuan Malaysia, Mohamad bin Sabu, menyambut baik dan berjanji akan mempererat kerja sama pertahanan Indonesia-Malaysia. Menhan Malaysia itu juga menjadi narasumber dalam Diskusi Panel ini.

“Kami akan meningkatkan keamanan antara Malaysia, Indonesia dan Filipina. Kami harap semua mematuhi keadaan tertentu, peraturan, itu harus dipatuhi,” jelasnya.

Dalam pertemuan dengan Menhan RI, Letnan Jenderal (Letjen) TNI Prabowo Subianto, Menhan Mohammad bin Sabu juga berkomitmen untuk meningkatkan keamanan kedua negara. “Saya telah membahas komitmen untuk meningkatkan keamanan kedua negara dengan Menhan Prabowo kemarin (24/1),” ucapnya.

Dalam keterangannya kepada media usai Diskusi Panel, Menhan Mohamad bin Sabu menjelaskan penyebab berulangnya kasus-kasus penculikan WNI di wilayah perairan Malaysia atau Filipina oleh kelompok Abu Sayyaf.

“Selagi pergolakan masih terjadi di Mindanao, Filipina Selatan, maka hal ini juga berdampak pada negara tetangganya. Untuk itu, perlu usaha untuk mencari jalan bersama dengan Filipina, untuk mengurangi pergolakan di Mindanao,” jelas Menhan Mohamad bin Sabu pada Sabtu (25/1) sore, seperti diukutip dari laman https://www.vivanews.com/.

Narasumber lainnya dalam Diskusi Panel ini ialah Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, M.A., dan yang menjadi moderator yakni Direktur The Wahid Foundation, Dra. Hj. Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, M.P.A., (Yenni Wahid).

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

LEAVE A REPLY