Makrifat Pagi: Bela Rasa

0
111

Saudaraku, air mata menghidupkan hatimu, seperti air hujan menyuburkan tanaman.

Bila hatimu terasa tandus pertanda kurang siram keharuan. Basahi rongga hatimu dengan menampung tetes tangis duka-lara. Hidup steril di zona nyaman bisa menumpulkan kepekaan pada kemarau kehidupan.

Rasakan getar keroncong perut kosong, kau akan mengerti perih rintih kelaparan. Sambungkan hati pada isak-tangis kepiluan, kau akan memahami arti perhatian kasih sayang.

Kau boleh berhasil lewati ambang batas kemiskinan, belum tentu lulus menghadapi ambang batas kekayaan. Ujian terberat adalah menahan diri dari godaan menimbun harta kelewat batas.

Kau boleh tahan lewati penindasan, belum tentu sanggup hadapi syahwat kekuasaan. Ujian terberat adalah gila hormat, yang halalkan segala cara untuk tetap berkuasa.

Manusia perlu sifat keugaharian, tahu kapan merasa cukup, agar bisa merawat kepekaan bela rasa, berbagi rezeki pada sesama. Perlu sifat kebersahajaan, agar kehormatan bisa memancarkan surya kasih, melayani siapapun tanpa kecuali.

Ketamakan mengeringkan air matamu, seperti kemarau yang menerikkan langit tanpa hujan. Hidup tanpa tetes tangis keharuan, ibarat padang rumput tanpa guyuran air hujan.

Penulis: Yudi Latief, M.A., Ph.D.

LEAVE A REPLY