Catatan Thamrin Dahlan: Panik Semenit di Depan ATM

0
285
Sumber: H. Thamrin Dahlan, M.Si.

Semua orang pernah merasakan panik sehebat apapun dia. Panik datang seketika tanpa disangka berkaitan sesuatu yang tidak terduga.

Itulah pengalaman hari ini depan benda modern bernama Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Kamis, 6 Februari 2020, pukul 06.15 WIB, awak (saya) bersegera ke salah satu mart (supermarket) di kawasan Kelurahan Dukuh, Jakarta Timur.

Pasalnya sepagi itu beringsut keluar rumah, bersebab ingin menunaikan janji ke tukang koran. Bayaran langganan harian Republika sudah telat sehari karena tidak memegang uang tunai.

Proses mengambil uang lancar-lancar saja, namun ketika mengambil struk transaksi, awak kaget seribu kaget. Dilembaran kertas putih tersebut tercetak saldo rekening Bank, kok tinggal seratus lima ribu rupiah.

Padahal menurut perhitungan, seharusnya saldo masih cukup banyak untuk keperluan keluarga / rumah tangga sebulan ke depan. Panik. Ada apa denganmu wahai ATM? kenapa ada perbedaan perhitungan diantara kita?

Untunglah suasana panik hanya berlangsung semenit. Ternyata, struk ATM itu milik pelanggan sebelumnya setelah meneliti nomor Rekening Bank.

Yes lega. Gegara (akibat) struk ATM yang tertinggal tidak ambil seorang (pun) empunya sebelumnya, maka kejadian panik mendera. Setelah membuang kertas putih kecil penyebab duka, awak mengambil struk yang kemudian baru keluar sesuai giliran.

Alhamdulillah, dana sisa nan (yang) tertulis sesuai dengan saldo. Untuk memastikan, maka dilakukan lagi transaksi di ATM. Hanya sekedar menyakinkan “ketik saldo”, maka dilayar terpampang jumlah uang sesuai di struk.

Panik semenit di depan ATM, itulah peristiwa yang mungkin terjadi pada siapa saja. Oleh karena (itu), ada baiknya kisah nyata ini dipublikasikan di media sosial agar pengalaman panik semenit bermanfaat adanya bagi khalayak.

Selain itu ada tujuan kedua, yaitu mengikuti petuah guru mulia. Jauh berjalan banyak dilihat. Banyak dilihat banyak ditulis. Sesungguhnya, setiap tulisan memiliki roh ketika di publikasi melalui jaringan dunia maya.

Tujuan ketiga, dalam kapasitas seorang jurnalis bergiat setiap hari menulis. Menulis ibarat mengkonsumsi vitamin agar tetap sehat jiwa raga.

One day one posting or more bermuara pada penerbitan buku. Insha Allah, buku awak ke 26 segera terbit (pada) Bulan Februari 2020.

Salam-salaman

Penulis: H. Thamrin Dahlan, M.Si.

Editor: Muhammad Ibrahim Hamdani

LEAVE A REPLY