Pertarungan Abadi: Immune System Versus Virus

0
132
Sumber: LKBN Antara

Penulis: Erick Wahyudi

Semua mahluk hidup yang kita kenal (carbon-based life) terdiri dari sel-sel, sebagai unit terkecil mahluk hidup. Setiap sel berfungsi sesuai dengan molekul protein yang membentuknya. Protein dihasilkan oleh mekanisme sintesa protein yang diatur oleh genetic material: Deoxyribonucleic Acid (DNA) dan Ribonucleic acid (RNA). Singkatnya, gen (gene) itu adalah DNA dan RNA.

DNA itu semacam “menu” yang menentukan sintesa protein. RNA semacam instruksi untuk sel memproduksi protein sebuah sel sesuai dengan menu yang ditentukan DNA. DNA dan RNA itu isinya “hanya” informasi/ data/ instruksi untuk sintesa protein.

Dari sini muncul istilah meme (diperkenalkan oleh Richard Dawkins di tahun 1970-an). Analoginya: gene itu informasi yang ada di dalam mahluk hidup, sedangkan meme adalah informasi yang ada di dalam kehidupan sosial. Sudah jadi ketentuan di alam raya ini bahwa informasi itu selalu berusaha mempertahankan eksistensinya. Maka tidak heran bila seseorang diberi informasi yang berbeda dengan yang diyakininya otomatis akan melawan. Orang tersebut akan mempertahankan informasi yang dia yakini.

Begitu juga dengan gen, akan selalu berusaha mempertahankan informasinya. Mekanismenya melalui proses replikasi. Mekanisme replikasinya tunduk pada hukum alam (hukum fisika –> molekuler).

Mekanisme mempertahankan informasi ini yang menyebabkan sebuah sel dapat befungsi bersama-sama secara kompatibel. Contohnya kumpulan sel yang membentuk telinga tidak bisa tumbuh di dada, karena setiap sel saling berkomunikasi dan men-cek kompatibilitas-nya. Kalau tidak kompatibel maka langsung dicegah replikasinya, atau bahkan dihancurkan sel-nya.

Virus VS immune system

Virus itu berbeda dengan bakteri. Virus bukan mahluk hidup karena tidak berbentuk sel yang lengkap (tidak memiliki mekanisme metabolisme). Virus hanya terdiri dari DNA dan/ atau RNA yang tersimpan dalam wadah (bentuknya protein juga).

Untuk bisa mereplikasi dirinya, virus harus masuk ke dalam sebuah sel dan “membajak” kode genetik di dalam sel itu. Sel yang sudah terinfeksi virus disebut sel host (rumah).

Sel yang ada di mahluk hidup juga punya mekanisme mempertahankan diri (informasi)-nya. Sistem ini dikenal dengan immune system, yang dilakukan oleh “polisi” yang menetralisir informasi asing ber-replikasi di dalam sel.

Mahluk hidup yang memiliki tulang belakang (termasuk manusia), memiliki immune system yang sangat canggih. Mulai dari antibodi yang mencegah virus (informasi asing) masuk ke dalam sel, hingga bermacam-macam mekanisme untuk menghancurkan sel yang sudah terlanjur terinfeksi virus.

Sel yang sudah terinfeksi virus langsung memproduksi protein yang bernama Interferon. Intereron ini mencegah virus (DNA atau RNA) di dalam sel untuk mereplikasi. Interferon juga mengeluarkan informasi semacam “manifest” untuk mendeklarasikan diri. Manifestnya dinamakan Major Histocompatibility Complex (MHC) Class-1. Dengan men-declare manifest ini, sel “polisi” yang terdekat bisa tahu bahwa sel tersebut tidak kompatibel dengan sel normal (yang tidak terinfeksi). Sel polisi ini bernama T-Cell, yang langsung menghancurkan sel yang terinfeksi tersebut.

Tapi virus selalu bermutasi. Ada jenis virus lain yang bisa mencegah sel yang terinfeksi mengeluarkan manifest ini. Sel host tersebut tidak merasa terinfeksi.

Namun ada “polisi” sel lain yang disebut sel NK (natural killer). Dia me-scan semua sel, dan bila ada yang janggal (tidak menghasilkan kadar MHC yang normal), dia langsung menghancurkan sel tersebut.

Hidup berdampingan dengan virus

Hakikatnya, protein itu tidak ada yang jahat. Semuanya digunakan oleh DNA dan RNA untuk mempertahankan eksistensinya. Termasuk juga virus. Yang dia lakukan adalah mempertahankan informasinya. Di lain pihak, tubuh kita juga selalu punya cara untuk mempertahankan kompatibilitas sel-sel nya.

Virus akan selalu bermutasi, yaitu berubah secara acak sebagai upaya untuk beradaptasi agar diterima oleh sel host sehingga dapat mereplikasi informasinya. Badan kita juga akan beradaptasi untuk mencegah informasi asing yang merugikan dirinya. Proses adaptasi kompetitif ini akan berlangsung terus hingga akhir jaman.

Sel kita akan selalu terinfeksi oleh virus, tiap detik tiap saat. Jadi, untuk mencegah efek buruk terinfeksi virus, tidak ada jalan lain harus terus meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara: tidur cukup, konsumsi makanan yang benar, berolahraga teratur, dan menghindari stress berlebihan. Itu dilakukan sambil menunggu para ahli untuk menghasilkan antivirus-nya. Namun sekali lagi, virus akan terus bermutasi.

Bila terlanjur sakit, segera berobat dan selalu berupaya untuk tidak menularkan penyakit ke orang lain. Beri waktu untuk badan bisa mengatasi virus yang masuk, serta sel-sel tubuh mereparasi diri agar organ tubuh kembali normal.

Sekali lagi: hindari stres, jangan panik, dan selalu berpikiran positif. Bila perlu, puasa membaca berita-berita yang menambah keresahan.*

CATATAN:

1. Contoh-contoh virus:
DNA Virus: cacar, herpes.
RNA Virus: rubella, demam berdarah, hepatitis A dan C, coronavirus
Retro Virus (RNA yang bisa memproduksi DNA): HIV, hepatitis B.

2. Pencegahan penyebaran COVID-19 (Corona Virus Desease – 2019):
– cuci tangan 1 jam sekali (lebih sering lebih bagus)
– minum air setiap jam atau sesering mungkin (bukan sekedar mencegah dehidrasi, tapi untuk mendorong cairan pembawa virus bersemayam di tenggorakan dan saluran pernapasan)
– hindari tempat ramai.

3. Penulis bukan ahli di bidang biologi maupun kedokteran. Penulis hanya mencoba mensosialisasikan pemahamannya tentang topik terkait.

Sumber: http://znews.id/2020/03/15/pertarungan-abadi-immune-system-vs-virus/

LEAVE A REPLY