Petani Milenial Petik ‘Manisnya’ Budidaya Cabai Katokkon

0
655

NEWSCOM.ID – Cabai menjadi salah satu komoditas pertanian favorit masyarakat Indonesia. Jumlah konsumsi cabai yang tinggi sering menyebabkan terjadinya fluktuasi karena tidak diimbangi dengan supplay & demand yang baik. Peluang ini ditangkap dengan baik oleh Canesia Aisah, milenial lulusan IPB jurusan Agronomi dengan memilih mengembangkan budidaya cabai katokkon.

“Waktu kunjungan ke Tana Toraja, kami ditunjukan cabai katokkon yang asli dari sana. Dari situ kami tertarik untuk membudidayakannya dil luar habitatnya,” terang Aisah saat membuka paparannya sebagai narasumber webinar inspirasi bisnis Intani seri ke 98, Rabu (7/12/2022).

Aisah (24) mendirikan PT ARSY bersama teman-teman milenialnya untuk membudidayakan cabai katokkon. Lahan yang dikelola hingga saat ini sudah ada 28 hektar tersebar di Bogor, Cipanas dan Sukabumi serta sedang pengembangan di daerah Jawa Tengah.

Untuk mencapai titik ini bukanlah hal yang mudah, Aisah menuturkan butuh perjuangan ekstra mulai dari riset hingga panen yang tidak sesuai ekspektasi. “Kita tanam dilahan luas terbuka, jadi memang tantangannya dulu itu sering terjadi pencurian. Seharusnya dari satu hektar bisa panen 30 ton jadi hanya 4 ton. Jadi kita benar-benar maintenance tim dan keamanannya,” ujarnya.

Aisah menerangkan PT ARSY mengelola mulai dari hulu sampai hilir, dari pembenihan, pembibitan, budidaya hingga pemasaran. “Dengan pola ini kami bisa memperoleh keuntungan dua kali, pertama saat penjualan produksi dan kedua dari marketing,” ujarnya.

Harga jual cabai katokkon dari lahan ke marketing berkisar 20.000 rupiah per kg lalu marketing jual ke pasaran dengan harga 50.000 rupiah per kg. “Untuk satu hektar setidaknya kita membutuhkan modal 200 juta rupiah, hingga saat ini kami bisa memperoleh keuntungan bersih hingga 100 juta rupiah per hektar setiap bulannya,” terang Aisah, direktur utama PT ARSY.

PT ARSY yang memiliki sekitar 60 karyawan kini menargetkan untuk menguasai setidaknya 5% pasar dari konsumsi cabai nasional per hari yaitu sekitar 50 ton perhari. “Jadi memang fokus kami pengembangan lahan untuk meningkatkan produksi, maka kami terbuka sangat untuk kemitraan,” jelasnya.

Menurut Aisah, cabai katokkon memiliki tingkat kepedasan 4-7 kali dibandingkan cabai rawit biasa selain itu harganya cukup stabil di pasaran dibandingkan cabai lainnya.

“Dengan begitu menggunakan cabai katokkon bisa lebih hemat dan memiliki aroma yang khas, jadi bisa lebih menguntungkan terutama untuk pengusaha aneka makanan pedas,” terangnya.

Disarankan untuk budidaya cabai katokkon di dataran tinggi, karena semakin tinggi datarannya bisa meningkatkan kualitas cabai katokkon dari tingkat kepedasan dan pertumbuhan tanamannya bisa mencapai 160cm.

“Setidaknya membutuhkan waktu 8 bulan untuk budidaya dan dalam satu periode taman bisa dipanen 26 kali setiap 3 hari sekali,” terangnya.

Tidak hanya budidaya cabai katokkon, PT ARSY juga membudidayakan beberapa jenis buah-buahan seperti durian, kelengkeng, pepaya, sawo dan alpukat, lalu memproduksi pupuk organik dari kotoran kelelawar serta membuat porduk olahan aneka sambal.

Ketua umum Intani, Guntur Subagja sangat kagum dengan pencapaian Aisah diusianya yang masih sangat muda mampu mengelola bisnis pertanian mulai dari hulu hingga hilir. Tidak sekedar bisnis tetapi juga bagaimana melestarikan varietas cabai lokal untuk tetap eksis dan bisa menguasai pasar nasional.

“Ini pencapaian yang luar biasa dan patut menjadi sosok milenial yang menginspirasi serta bukti nyata bahwa sektor pertanian memiliki nilai ekonomi tinggi, bahkan menjadi profesi yang tidak bisa dianggap sebelah mata lagi,” terangnya.

Webinar inspirasi bisnis Intani dengan tema ‘Petani Milenial Raup Miliaran dari Cabai Katokkon’ dipandu Ila Failani bisa disaksikan kembali hanya di channel youtube TANITV.*

LEAVE A REPLY