INTANI: “Sektor Pertanian Dinilai Belum Menjadi Pilihan Profesi Yang Menyejahterakan”

0
350
Sumber: Akun Youtube CNBC Indonesia, "Ini Sebab Petani RI Belum Sejahtera Meski Harga Beras Cs Naik," https://youtu.be/tn_iqNV6Vco.

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (INTANI), Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si., menjelaskan penyebab mengapa profesi petani belum menjadi pilihan yang mampu menyejahterakan bangsa Indonesia.

“Kenapa petani di Indonesia ini belum bisa menjadikan sektor pertanian menjadi pilihan yang sejahtera? Karena apa? Karena skala ekonomi yang dikelola para petani kita masih sangat kecil. Rata-rata kepemilikan lahan 0,2 hektare. Skala ekonomi ini sangat costly (mahal), biayanya sangat tinggi, dikelola satu orang, itu hanya buat 0,2 hektare,” jelasnya.

Sedangkan di Jepang, imbuhnya, satu orang (petani) bisa 4 sampai 5 hektare, mengelola (pertanian) dengan teknologi dan lain-lain. “Nah, ini yang menjadi permasalahan dan tantangan kita sebetulnya,” paparnya pada Rabu (3/8) pagi.

Tepatnya saat diwawancarai oleh CNBC Indonesia, seperti dikutip dari video berjudul “Ini Sebab Petani RI (Republik Indonesia) Belum Sejahtera Meski Harga Beras Cs Naik” di laman https://youtu.be/tn_iqNV6Vco.

“Nah, ada hitungan ideal yang kita lihat dan nanti sama-sama  kita simulasikan. Kalau kita menanam di industri pangan, itu dikelola oleh keluarga, itu mungkin minimal harus 2 hektare. Nah, bagaimana ini supaya bisa mengatasi permasalahan kepemilikan lahan yang minim ini?” ujarnya.

Salah satu caranya, ucap Guntur Subagja, adalah bagaimana mengelompokkan para petani untuk menggarap sawah, menggarap lahan secara terkelola, dan di situ bisa berbagi tugas. “Dan di luar itu, dia (petani) juga akan mengembangkan sektor-sektor lainnya sehingga efektivitas untuk mengelola lahan itu akan menjadi lebih efisien,” ucapnya.

Misalnya, ungkap Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) ini, kita dapat mengumpulkan beberapa petani hingga lahannya menjadi 10 hektare. Mungkin ada lima petani atau beberapa petani, mereka akan berbagi.

“Mereka (petani) hanya mengelola mungkin dua hari, yang lain dua hari, dua hari. Nah, 28 hari lainnya dia (petani) bisa mengembangkan ternak, bisa mengembangkan budi daya yang lain sehingga penghasilannya akan meningkat lebih tinggi,” kata Guntur Subagja.

Sebenarnya, ungkap Sekretaris Lembaga Wakaf (LW) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, di lapangan sudah ada kelompok tani. Nah, bagaimana kita bisa mengoptimalkan kelompok tani sampai ke ranah manajemen pertanian di bawah, di desa.

Saat ini, ucapnya, mungkin peran dan fungsi kelompok pertanian perlu ditingkatkan lagi. Tidak hanya sebatas mendata petani untuk menerima subsidi, tidak hanya sebatas mendata petani untuk menerima bantuan pemerintah.

“Tetapi, lebih dari itu, ialah bagaimana kelompok tani ini menjadi suatu ekosistem yang masuk ke dalam rantai pasok pertanian sehingga biaya produksi bisa lebih murah, kemudian harga jualnya lebih tinggi karena rantai pasoknya lebih pendek,” jelasnya.

Sumber: Akun Youtube CNBC Indonesia, “Ini Sebab Petani RI Belum Sejahtera Meski Harga Beras Cs Naik,” https://youtu.be/tn_iqNV6Vco.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.

Peneliti CSPS SKSG UI

LEAVE A REPLY