Wapres Ma’ruf: “U’lama Berperan Signifikan dalam Konsensus NKRI dan Moderasi Beragama”

0
616
Sumber: Majelis Ulama Indonesia (MUI) / KH. Dr. Marsudi Syuhud, M.A.

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia (RI), Prof. Dr. (H.C.) Drs. KH. Ma’ruf Amin, menegaskan bahwa berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para ulama dan cendekiawan Muslim tanah air. Khususnya terkait konsensus nasional Indonesia, al-mitsaq al-wathani.

“Sebagaimana saya sampaikan di berbagai kesempatan, bahwa NKRI telah memiliki konsensus nasional, al-mitsaq al-wathani, yang dibangun dan disepakati oleh para pendiri bangsa, yang sebagian (besar) dari mereka adalah ulama dan tokoh agama Islam,” tutur Wapres KH. Ma’ruf Amin pada Senin (22/5) pagi.

Seperti dikutip dari laman https://www.setneg.go.id/, Wapres KH. Ma’ruf Amin yang juga Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menyatakan hal itu di Hotel Sultan, Jakarta. Tepatnya saat memberikan kata sambutan dan membuka acara Konferensi Internasional Tentang Agama, Perdamaian dan Peradaban.

Konferensi internasional ini diselenggarakan oleh MUI bekerja sama dengan Rabithah al-A’lam al-Islami atau Liga Dunia Islam, sejak Ahad (21/5) hingga Selasa (23/5).

Menurut Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, Indonesia telah dikenal oleh dunia internasional sebagai negara yang memiliki prinsip kebebasan beragama dan mampu menjaga prinsip-prinsip toleransi yang tinggi.

“Konsensus nasional yang telah ditetapkan oleh para pendiri bangsa di masa lampau merupakan bentuk kesadaran terhadap keberagaman. Hal ini harus kita perkuat dalam sebuah kesatuan bangsa yang utuh,” tutur Wapres KH. Ma’ruf Amin.

Lebih lanjut, Wakil Ketua merangkap Ketua Harian Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) itu pun menggarisbawahi pentingnya moderasi beragama sebagai ikhtiar untuk merawat keutuhan bangsa.

“Melalui manajemen moderasi beragama, diharapkan kemajemukan dalam masyarakat mampu terus dirawat demi kelanggengan bangsa. Apalagi setiap ajaran agama memberikan pendidikan yang baik dalam kehidupan toleransi dan hidup berdampingan antar umat beragama,” ujar Wapres KH. Ma’ruf Amin.

Wapres KH. Ma’ruf Amin pun mengingatkan kembali tentang konsep relasi yang kuat antar sesama manusia atau hablum minannas, relasi antara hamba (manusia) dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) atau hablum minAllah, dan relasi antara manusia dengan alam semesta atau hablum minal a’lam.

“Dalam beragama, kita diajarkan untuk mengamalkan ajaran agama dalam setiap aspek kehidupan agar terjalin hubungan yang indah dan harmonis antarsesama, alam semesta maupun dengan Tuhan Sang Maha Pencipta (Allah SWT),” jelas Wapres KH. Ma’ruf Amin yang juga Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) itu.

Artinya, lanjut Ketua Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam ini, nilai-nilai agama yang kita yakini (tentu) dapat menciptakan perdamaian antarumat beragama.

Sebelumnya pada Ahad (21/5) malam, seperti dikutip dari akun Youtube Official MUI di laman https://youtu.be/7_jC3f4glWU, Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI Pusat, KH. Dr. Marsudi Syuhud, M.A., menyatakan bahwa semboyan Bhineka Tunggal Ika terbukti mampu menjaga kehidupan bangsa Indonesia yang beraneka ragam.

“Dalam forum ini, kami akan berbagi pengalaman hidup bersama di antara orang-orang yang berbeda agama di Indonesia, yang bersumber dari semboyan bangsa Indonesia, Bhineka Tunggal Ika,” tutur KH. Dr. Marsudi Syuhud.

Indonesia, lanjutnya, adalah negara yang terdiri dari berbagai macam ras, etnis dan budaya (multikultural) di dunia. Namun kehidupan bangsa indonesia, dapat (tetap) hidup berdampingan dengan damai.

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masa Khidmat 2017-2022 itu pun mengakui bahwa tidak mudah bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan negara yang aman, nyaman, harmonis dan saling menghargai satu sama lain.

“Indonesia adalah negara yang begitu besar dan berwarna dalam kehidupan bermasyarakat. Tentu tidak mudah untuk menjadikan Indonesia negara yang aman, nyaman, harmonis, dan saling menghargai,” ujarnya.

Dengan semangat Bhineka Tunggal Ika, ucap KH. Dr. Marsudi Syuhud, kita dapat mempersatukan lebih dari 700 bahasa daerah menjadi satu, yakni Bahasa Indonesia.

Dengan semangat Bhineka Tunggal Ika, lanjutnya, kita dapat mempersatukan 1.340 suku bangsa menjadi satu bangsa, yaitu Bangsa Indonesia. “Dengan Semangat Bhineka Tunggal Ika, kita dapat menyatukan 16.771 pulau di Indonesia menjadi NKRI,” imbuh KH. Dr. Marsudi Syuhud, M.A.

Dalam prosesi pembukaan ini, seperti dikutip dari akun Youtube Official TV MUI di laman https://youtu.be/M1cls0MN-iI, Ketua Komite Penyelenggara Konferensi Internasional MUI, Duta Besar Dra. Hj. Safira Rosa Machrusah, M.A.A.S., menyatakan bahwa acara ini diikuti oleh 45 pembicara dari dalam dan luar negeri dari berbagai agama di dunia.

“Pada pagi hari ini, alhamdulillah, telah hadir 265 peserta dari 20 negara dan 5 benua, Australia, Asia, Amerika, Afrika dan Eropa, dan antara lain beberapa negara yang saya sampaikan, ada dari Kazakhstan, Rusia, Ukraina, Jerman, Perancis, USA (Amerika Serikat), Saudi Arabia, Irak, Oman, India, Nairobi, Thailand, Malaysia dan Palestina,” paparnya.

Selain itu, turut hadir dan menyampaikan kata sambutan Direktur Liga Dunia Islam untuk Indonesia, Yang Mulia (YM) Syaikh Dr. Abdurrahman Mohammad Amin al-Khayyat, yang juga Wakil Rabithah Al-A’lam Al-Islami untuk Asia Tenggara dan Australia, pada Senin (22/5) pagi.

Kemudian, turut hadir dan memberikan sambutan secara daring, melalui video konferensi, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Liga Dunia Islam (Rabithah al-A’lam al-Islami), YM. Syeikh Dr. Muhammad bin Abdul Karim Al-Issa, saat prosesi pembukaan konferensi.

Adapun pembacaan do’a dipimpin oleh Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, KH. Abdullah Jaidi. Sedangkan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an akan dipimpin oleh Dr. Syofyan Hadi, S.S., S.Ag., M.A.Hum. Beliau membacakan Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 103.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani

LEAVE A REPLY