Pandemi COVID-19, Pemerintah Menerbitkan SUN Global 4,3 Miliar US$

0
104
Sumber: LKBN Antara

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo SE, MSc, Ph.D., menyatakan bahwa cadangan devisa Republik Indonesia (RI) akan bertambah menjadi 125 Dollar Amerika Serikat (AS/ US$) karena pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) Global sejumlah 4,3 miliar US$.

“Cadangan devisa meningkat, akhir bulan lalu mencapai 121 miliar dolar AS dan insya Allah pekan depan akan mendekati 125 miliar dolar AS,” tutur Perry Warjiyo pada Kamis (9/4), dalam jumpa pers daring di Jakarta, seperti dikutip dari Lembaga Kantor Berita NAsional (LKBN) Antara.

Dengan jumlah cadangan devisa sebesar itu, lanjutnya, maka sudah cukup digunakan oleh pemerintah untuk membayar impor, utang pemerintah, dan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Menurutnya, saat ini pemerintah sedang melakukan proses administrasi dan penyelesaian untuk surat utang global tersebut.

“Pemerintah telah mengumumkan penerbitan surat utang global sebanyak tiga seri dengan total mencapai 4,3 miliar dolar AS bertenor masing-masing 10, 30 dan 50 tahun,” ungkap Gubernur BI, Perry Warjiyo.

Penerbitan surat utang itu, ujarnya, nanti akan digunakan untuk belanja penanganan COVID-19 dan keperluan lainnya oleh pemerintah RI.

Sebelumnya dalam rapat kerja secara virtual dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI pada Rabu (8/4), Gubernur BI menyatakan bahwa pelaku pasar sudah mengetahui rencana pemerintah untuk menerbitkan surat utang sebelum adanya wabah virus corona jenis baru atau Corona Virus Desease 2019 (COVID-19).

“Dengan adanya aliran modal asing itu, maka akan menambah cadangan devisa negara. Sebelumnya, cadangan devisa Indonesia sempat turun sebesar 9,4 miliar dolar AS. Tepatnya dari 130,4 miliar dolar AS pada akhir Februari 2020 menjadi 121 miliar dolar AS pada Maret 2020,” jelas Gubernur BI.

Menurutnya, penurunan cadangan devisa itu terjadi karena digunakan untuk pembayaran utang pemerintah yang jatuh tempo pada Maret 2020 sebesar 2 miliar dolar AS. “Sedangkan sebesar 7 miliar dolar AS digunakan untuk memasok valuta asing di pasar keuangan,” ungkapnya.

BI, jelasnya, telah memasok valas karena saat itu, para investor global mengalami kepanikan dengan melepas saham dan obligasi dalam waktu yang bersamaan. “Kejadian ini terjadi di seluruh dunia karena dampak wabah COVID-19,” ujar Perry Warjiyo.

Sumber: LKBN Antara

Editor: Hamdani

LEAVE A REPLY