CSPS SKSG UI: “Kelola Protes-Protes Terhadap Prancis dengan Baik, Jangan Merugikan Indonesia”

0
73
Sumber: CSPS SKSG UI / https://youtu.be/c6UlNTePS60

NEWSCOM.ID, JAKARTA – Pemerintah Republik Indoensia (RI) harus bisa mengelola dengan baik protes-protes dari masyarakat, khususnya umat Islam, terhadap ucapan Presiden Republik Perancis, Emmanuel Jean-Michel Frederic Macron, yang dianggap melecehkan dan menghina agama dan umat Islam.

Berdasarkan pantauan NEWSCOM.ID, Ketua Center for Strategic Policy Studies (CSPS) Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI), Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si., menyatakan hal itu pada Jumat (6/11) siang.

Tepatnya saat Asisten Staf Khusus Wakil Presiden (Wapres) RI Bidnag Ekonomi dan Keuangan itu memberikan kata sambutan sekaligus pengantar dalam Seminar Daring bertema Kontroversi Perancis dan Masa Depan Hubungan Bilateral Indonesia-Perancis.

“Kita sebagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim harus menyikapinya (kontroversi Prancis) seperti apa? Sehingga tujuan pesannya akan sampai, tetapi Indonesia sendiri tidak dirugikan dengan kondisi-kondisi seperti ini (ucapan Presiden Perancis),” tutur Guntur Subagja pada Jumat (6/11) siang.

Kita, lanjutnya, berharap agar KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., M.A., Ph.D., dapat memberikan analisis dan paparannya terhadap kontroversi Perancis selaku narasumber dan Ketua Komisi Dakwah Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Menurutnya, apabila protes-protes masyarakat terhadap Presiden Emmanuel Macron ini tidak terkelola dengan baik oleh kita semua, maka akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia dan minat investasi asing ke dalam negeri.

“Kita ingin memiliki gambaran, masukan, atau analisis tentang Kontroversi Prancis. Kita tetap bisa mengkritik apa yang memang kurang tepat disampaikan oleh Presiden Prancis, baik melalui unjuk rasa, tulisan dan lain-lain,” paparnya.

Namun di sisi lain, ucapnya, masyarakat kita (Indonesia) bisa menyadari bahwa hubungan bilateral Indonesia-Prancis, hubungan ekonomi, dan implikasi sosial akan terjadi apabila protes-protes ini tidak terkelola dengan baik.

“Bukan berarti kita tidak boleh mengkritik atau memprotes, tetapi bagaimana kita bisa mengelola isu-isu ini (kontroversi Prancis) dengan cara-cara yang lebih tepat dan tidak berdampak buruk terhadap Indonesia,” jelasnya.

Seminar Daring ini berlangsung secara virtual pada Jumat (6/11) siang, Pukul 14.00 – 16.30 Waktu Indonesia Barat (WIB), dan diikuti sekitar 70 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia. Acara dibuka secara langsung oleh Ketua CSPS SKSG UI, Guntur Subagja Mahardika, S.Sos., M.Si.

Seminar Daring ini juga menampilkan tiga narasumber lainnya, yakni Wakil Direktus SKSG UI, Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P., Ph.D., dan Ketua Komisi Dakwah Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., M.A., Ph.D., dan Sekretaris CSPS SKSG UI, Dr. (Candidate). Yanuardi syulur, S.Sos., M.Si.

Adapun moderator dalam Seminar Daring ini ialah Bendahara CSPS SKSG UI, Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si. Sedangkan pembawa acaranya ialah Ir. Ajeng Pramastuti, S.T., M.Si.

Dalam sesi tanya jawab di seminar daring ini, terdapat dua orang penanya, yakni Pendiri Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan, Drs. H. Thamrin Dahlan, M.Si., dan seorang jurnalis dari Kantor Berita Miraj News Agency (MINA), Rifa Berliana Arifin.

Penulis: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P., M.Si.

LEAVE A REPLY